porenesia.com – Gampong Wihlah Setie di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, perlahan mulai menata kembali kehidupan mereka. Desa berpenduduk 240 jiwa ini sempat porak-poranda akibat terjangan banjir bandang dahsyat pada November 2025 lalu.
Sekretaris Desa Hajirin menceritakan bahwa banjir tersebut bermula dari hujan deras yang mengguyur selama enam hari berturut-turut. Puncaknya, perbukitan di sekitar desa tidak lagi mampu menahan debit air sehingga menciptakan longsoran material lumpur yang masif.
Air bah bercampur kayu batangan meluncur dari dinding pegunungan dan menerjang seluruh pemukiman serta fasilitas umum milik warga. Bencana ini juga merusak saluran pipa air bersih serta menenggelamkan seluruh area persawahan milik penduduk setempat. Warga terpaksa bertahan di lokasi pengungsian selama dua bulan dalam situasi yang sangat genting dan serba terbatas. Mereka harus bertahan hidup tanpa air bersih serta mengandalkan air hujan maupun air irigasi sawah untuk minum.
Distribusi bantuan pemerintah sempat terhambat karena akses jalan utama dari Kota Takengon menuju desa terputus total akibat longsor. Warga hanya mengandalkan sisa cadangan beras hasil panen musim sebelumnya guna mengganjal rasa lapar selama masa pengungsian. Lumpur setebal lebih dari satu meter sempat mengubah bentang alam persawahan warga menjadi hamparan luas seperti padang pasir. Kondisi tersebut menyebabkan banyak petak sawah tidak dapat dikelola kembali karena rusaknya sistem pengairan di wilayah tersebut.
Seiring berjalannya waktu, bantuan mulai berdatangan dan warga mulai bergotong royong membersihkan sisa-sisa material banjir di desa. Semangat saling menguatkan antarwarga menjadi modal utama bagi mereka untuk membuka lembaran hidup baru yang lebih baik.
Kini, kehidupan di Gampong Wihlah Setie mulai kembali normal meski sisa-sisa endapan lumpur masih terlihat di beberapa titik. Keramahan warga menyambut pendatang menjadi bukti bahwa trauma bencana tidak melunturkan kehangatan sosial masyarakat dataran tinggi Gayo.





