porenesia.com – Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan resmi keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) serta aliansi OPEC+. Keputusan mengejutkan ini akan mulai berlaku secara efektif pada tanggal 1 Mei 2026 mendatang.
Langkah ini menjadi pukulan berat bagi Arab Saudi sebagai pemimpin de facto kelompok pengekspor minyak tersebut. Penarikan diri UEA terjadi saat perang Iran sedang memicu guncangan energi serta mengganggu stabilitas ekonomi global. Abu Dhabi menyatakan bahwa keputusan ini sejalan dengan visi strategis dan ekonomi jangka panjang negara tersebut. Fokus utama UEA kini tertuju pada pengembangan sektor energi domestik serta percepatan investasi produksi secara mandiri.
Pemerintah UEA merasa sudah memberikan kontribusi signifikan dan pengorbanan besar selama menjadi anggota organisasi dunia tersebut. Namun, saat ini mereka memilih untuk lebih memprioritaskan upaya yang dituntut oleh kepentingan nasional dalam negeri. Langkah berani ini muncul setelah UEA mengkritik negara-negara Arab lain yang dinilai kurang melindungi mereka. Selama perang Timur Tengah, UEA sering menjadi target serangan balasan dari Teheran karena kedekatannya dengan Washington.
Hubungan diplomatik UEA dengan Arab Saudi juga dilaporkan sedang mengalami ketegangan terkait perbedaan kebijakan energi nasional. Hingga kini, blokade Iran terhadap Selat Hormuz masih menghambat pengiriman minyak mentah dari negara-negara Teluk. Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilewati oleh seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia. Penutupan jalur ini merupakan respons Teheran atas berbagai serangan militer dari pihak Amerika Serikat dan Israel.
Keluarnya UEA diprediksi akan mengubah peta kekuatan serta koordinasi kebijakan produksi minyak di pasar global. Publik internasional kini menunggu dampak lanjutan dari keputusan strategis ini terhadap fluktuasi harga minyak mentah dunia.





