porenesia.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengungkapkan persoalan serius dalam dunia pendidikan nasional saat ini. Ia menyebut penggunaan media sosial yang berlebihan telah menyebabkan rendahnya tingkat konsentrasi pada anak-anak Indonesia.
Mu’ti menyampaikan hal tersebut saat meresmikan revitalisasi satuan pendidikan di Kabupaten Banyumas pada Sabtu kemarin. Kebiasaan bermain gim dan gawai secara berlebihan membuat anak-anak sulit fokus dalam durasi waktu yang lama. Paparan gawai yang tidak terkontrol juga memberikan dampak langsung terhadap kecerdasan serta daya perhatian siswa di sekolah. Mu’ti menilai durasi perhatian yang pendek menjadi hambatan besar dalam proses komunikasi dan penyerapan materi pelajaran.
Selain masalah konsentrasi, penggunaan media sosial yang berlebihan turut memengaruhi kesehatan mental para pelajar secara signifikan. Fenomena ini memicu gangguan psikologi mulai dari skala ringan hingga berat bagi banyak individu di tanah air. Organisasi kesehatan dunia seperti WHO dan Unicef turut menaruh perhatian besar terhadap ancaman gangguan mental tersebut. Data menunjukkan satu dari sepuluh orang berpotensi mengidap gangguan psikologi akibat gaya hidup digital yang tidak sehat.
Pemerintah bersama enam kementerian lainnya kini telah menerbitkan aturan mengenai pembatasan penggunaan media sosial bagi anak. Regulasi ini secara khusus menyasar anak-anak berusia di bawah 16 tahun guna menciptakan budaya sekolah yang aman. Langkah ini bertujuan agar anak-anak terhindar dari berbagai dampak negatif media sosial yang merusak karakter mereka. Mu’ti menekankan bahwa perbaikan sarana prasarana pendidikan saja tidak cukup untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan nasional.
Kementerian Pendidikan akan terus mendorong perbaikan pendekatan belajar serta penguatan pendidikan karakter di seluruh instansi sekolah. Transformasi budaya sekolah yang nyaman menjadi kunci utama dalam membangun masa depan generasi muda yang lebih sehat.





