porenesia.com – Indonesia akan mengimpor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Kebijakan ini merupakan hasil pertemuan strategis antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Vladimir Putin di Moskwa.
Pemerintah mengambil langkah ini sebagai strategi menjaga ketahanan energi di tengah tekanan pasokan global saat ini. Konflik di Timur Tengah yang terus memanas mulai mengganggu jalur perdagangan minyak internasional secara signifikan. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan bahwa pemerintah kini sedang menyusun mekanisme pengiriman minyak tersebut. Proses impor akan berlangsung secara bertahap hingga tahun 2026 mendatang sesuai kapasitas penyimpanan nasional.
Minyak impor ini akan memenuhi kebutuhan bahan bakar masyarakat serta sektor industri, pertambangan, dan petrokimia. Pemerintah mengalokasikan stok tersebut untuk meredam dampak ketidakstabilan harga minyak mentah di pasar dunia. Saat ini Indonesia masih menghadapi kekurangan pasokan minyak domestik yang cukup besar setiap harinya. Produksi minyak nasional hanya mencapai 600 ribu barel, sementara kebutuhan warga menyentuh 1,6 juta barel.
Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan bahwa Rusia memberikan komitmen pasokan dengan harga khusus. Rusia siap memasok hingga 100 juta barel dan tambahan 50 juta barel jika Indonesia membutuhkan. Meskipun telah menjalin kerja sama dengan Rusia, Indonesia tetap membuka peluang impor dari negara-negara lain. Pemerintah juga melirik Amerika Serikat sebagai salah satu mitra potensial untuk menambah stok cadangan energi.
Kombinasi pasokan dari berbagai negara diharapkan mampu menstabilkan ketersediaan minyak mentah dan LPG di dalam negeri. Langkah diplomasi energi ini menjadi kunci penting untuk melindungi ekonomi nasional dari guncangan global.





