porenesia.com – Suara gemerincing lonceng kecil dari sebuah gang di pusat kota Seoul menandai kehadiran dukun bertenaga kecerdasan buatan. Teknologi robotik ini menggabungkan asisten virtual dengan chatbot AI generatif untuk berinteraksi langsung dengan para pengunjung. Terkait hal itu, sosok dukun muncul sebagai avatar layar yang menyerupai karakter animasi populer ‘KPop Demon Hunters’. Banyak warga merasa lebih nyaman mengunjungi dukun digital ini karena tidak memberikan kesan menakutkan seperti dukun sungguhan. Oleh karena itu, toko produk budaya di pusat ibu kota Korea Selatan tersebut kini ramai oleh pengunjung.
Lebih lanjut, sistem canggih ini merujuk pada kepercayaan tradisional ‘saju’ atau empat pilar takdir yang berusia ratusan tahun. Pengunjung cukup memasukkan nama, jenis kelamin, serta tanggal lahir mereka ke dalam perangkat komputer yang tersedia. Setelah itu, sebuah proyeksi wajah manusia akan meminta pengguna menjelaskan kekhawatiran mereka melalui perangkat jemala khusus. Sistem kemudian memproses informasi tersebut untuk menafsirkan nasib seseorang berdasarkan waktu kelahiran mereka secara akurat. Maka dari itu, teknologi ini berhasil mengawinkan nilai budaya kuno dengan inovasi modern yang sangat praktis.
Di sisi lain, setiap pengunjung akan menerima ‘jimat’ plastik berisi kode batang setelah sesi konsultasi selesai. Mereka dapat memindai kode tersebut menggunakan ponsel untuk membaca ramalan nasib secara lebih rinci dan mendalam. Selanjutnya, seorang wisatawan asal Singapura mengaku terkesan karena dukun AI ini mampu beroperasi dalam empat bahasa berbeda. Keberagaman bahasa tersebut memudahkan turis asing untuk memahami nasihat ramalan tanpa terkendala masalah komunikasi di lapangan. Sejalan dengan itu, ramalan yang keluar seringkali terasa sangat personal dan sesuai dengan kepribadian asli sang pengunjung.
Pada akhirnya, tren dukun AI ini menjadi cermin perkembangan teknologi yang semakin merambah ke sektor spiritual dan budaya. Masyarakat Seoul menyambut hangat inovasi ini sebagai bentuk hiburan baru yang tetap menghormati tradisi leluhur mereka. Meskipun demikian, para ahli teknologi tetap mengingatkan publik agar memandang hasil ramalan tersebut sebagai saran atau referensi semata. Keberhasilan proyek ini membuka peluang bagi pengembangan asisten virtual berbasis budaya di berbagai belahan dunia lainnya. Secara keseluruhan, ‘dukun AI’ berhasil menciptakan pengalaman unik yang menarik minat warga lokal maupun wisatawan internasional.





