porenesia.com – Harga minyak dunia merosot tajam sebesar 5,9 persen hingga menyentuh level 92,41 dolar AS per barel. Penurunan signifikan ini terjadi segera setelah otoritas Iran membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Sebelumnya, harga minyak mentah jenis Brent sempat melonjak di atas 100 dolar AS akibat ketegangan di Timur Tengah. Eskalasi konflik tersebut sempat memicu kekhawatiran global mengenai keamanan pasokan energi dunia melalui jalur vital tersebut. Namun, tercapainya kesepakatan gencatan senjata di Lebanon menjadi titik balik yang meredakan kekhawatiran para pelaku pasar.
Terkait hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi pembukaan penuh jalur perdagangan melalui akun sosial medianya. Kapal komersial kini dapat melintasi rute terkoordinasi yang telah ditentukan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran. Selanjutnya, kebijakan ini berlaku efektif selama masa gencatan senjata berlangsung guna memastikan kelancaran distribusi logistik global. Maka dari itu, tekanan terhadap rantai pasok minyak yang menguasai 20 persen perdagangan dunia mulai berkurang drastis. Pasar merespons positif langkah diplomasi ini dengan menurunkan premi risiko pada harga minyak mentah.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia menyambut baik normalisasi jalur pelayaran internasional tersebut sebagai sinyal positif stabilitas ekonomi. Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyatakan bahwa pembukaan selat ini memperkuat ketahanan energi nasional. Meskipun demikian, pemerintah tetap mengantisipasi berbagai skenario gangguan pasokan dengan memperkuat stok nasional. Langkah antisipasi tersebut juga mencakup diversifikasi sumber energi untuk menjaga stabilitas ketersediaan. Selain itu, pemerintah berharap tren penurunan harga minyak dunia mampu mengurangi beban subsidi energi domestik. Kebijakan ini bertujuan untuk menyeimbangkan anggaran negara di tengah fluktuasi pasar global. Pemerintah memastikan pasokan BBM nasional tetap terjaga dengan aman selama periode transisi geopolitik berlangsung.
Pada akhirnya, penurunan harga minyak global turut memengaruhi pergerakan saham emiten migas di Bursa Efek Indonesia. Saham perusahaan seperti MEDC dan ENRG terpantau melandai setelah sebelumnya sempat melonjak akibat sentimen konflik. Lebih lanjut, analis tetap memandang sektor hulu migas memiliki potensi kinerja yang cukup kuat dalam jangka pendek. Penyesuaian harga saham ini merupakan respons wajar pasar terhadap perubahan dinamika pasokan dan permintaan energi dunia. Secara keseluruhan, pembukaan Selat Hormuz membawa angin segar bagi pemulihan ekonomi global yang sempat tertekan.





