Tangerang – Pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah berani dalam mengelola potensi ekonomi haji dan umrah secara terintegrasi. Momentum ini ditandai dengan pengiriman perdana bumbu pasta dan makanan siap saji (Ready to Eat) dari Tangerang pada Kamis (2/4/2026). Langkah strategis ini bertujuan memastikan perputaran uang jamaah tetap memberikan dampak signifikan bagi ekonomi domestik.
Deputi Bidang Koordinasi Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan, menegaskan bahwa inisiasi ini merupakan tahap awal yang sangat krusial. Pada fase pertama, pemerintah mengirimkan sebanyak 100 ton logistik bumbu dan konsumsi melalui sinergi antarlembaga. Proses pengiriman logistik tahap pertama ini akan berlangsung secara bertahap hingga 6 April 2026 mendatang.
Menekan Defisit Devisa Melalui Sinergi BUMN
Langkah ini menjadi jawaban atas tingginya angka cash outflow atau keluarnya devisa nasional ke penyedia jasa asing. Data Neraca Pembayaran Indonesia mencatat defisit neraca jasa tahun 2025 telah menyentuh angka USD19,8 miliar. Kontributor terbesar defisit tersebut berasal dari sektor transportasi dan logistik yang selama ini didominasi pihak luar.
Oleh karena itu, Presiden Prabowo Subianto mendorong konsep Indonesia Incorporated melalui kolaborasi PT Garuda Indonesia dan PT Pos Indonesia. Kedua BUMN ini bersinergi menyediakan dukungan logistik dengan biaya yang jauh lebih efisien dan kompetitif. Pemerintah ingin porsi layanan konsumsi serta transportasi haji dapat sepenuhnya terpenuhi oleh penyedia layanan nasional.
Transformasi Haji dari Ritual Menuju Nilai Tambah Ekonomi
Staf Ahli Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menyatakan bahwa pengelolaan haji kini tidak lagi hanya fokus pada aspek ritual keagamaan. Pemerintah mulai melihat haji dan umrah sebagai rantai nilai ekonomi yang sangat besar dan menjanjikan. Dengan jumlah jamaah mencapai dua ratus ribu orang per tahun, potensi pasar ini harus memberikan manfaat nyata bagi rakyat.
Ke depannya, pemerintah akan mengoptimalkan potensi pengiriman oleh-oleh hingga kebutuhan katering jamaah umrah sepanjang tahun. Direktur Jenderal Jaenal Effendi berharap kolaborasi ini mampu menciptakan multiplier effect bagi pelaku industri makanan di tanah air. Langkah ini memastikan jamaah tetap dapat menikmati cita rasa asli nusantara sekaligus menjaga kedaulatan ekonomi nasional.





