JAKARTA – Pemerintah resmi mengubah skema pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai April 2026. Kebijakan baru ini memangkas durasi pelaksanaan program dari enam hari menjadi lima hari seminggu. Langkah strategis ini mampu menghemat anggaran negara hingga Rp20 triliun setahun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan penjelasan detail terkait keputusan tersebut. Ia menegaskan bahwa pemerintah sedang melakukan optimalisasi program secara menyeluruh. Meskipun jadwal berubah, tujuan utama pemenuhan gizi masyarakat tetap menjadi prioritas.
Fokus pada Efisiensi dan Ketepatan Sasaran
Airlangga menjamin kualitas nutrisi bagi penerima manfaat tidak akan menurun sedikit pun. Program MBG akan tetap menyediakan makanan sehat selama lima hari kerja setiap pekan. Kebijakan ini selaras dengan perubahan pola kerja nasional yang berlaku mulai bulan ini.
Namun, pemerintah tetap memberikan pengecualian khusus bagi wilayah dan kelompok rentan tertentu. Sekolah berasrama akan tetap menerima layanan makan bergizi selama enam hari penuh. Begitu juga dengan masyarakat di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).
Penanganan Stunting Tetap Menjadi Prioritas
Wilayah dengan angka stunting tinggi juga tidak terkena pemotongan jadwal tersebut. Pemerintah berkomitmen penuh untuk menekan angka gangguan pertumbuhan pada anak-anak Indonesia. Petugas akan terus memantau distribusi makanan agar tepat sasaran di daerah merah.
Hingga awal Maret 2026, program MBG sudah menjangkau lebih dari 60 juta jiwa. Penerima manfaat mencakup pelajar, ibu hamil, ibu menyusui, hingga kelompok lanjut usia. Pemerintah optimistis efisiensi anggaran ini akan memperkuat ketahanan ekonomi nasional jangka panjang.
Strategi Anggaran Nasional 2026
Efisiensi sebesar Rp20 triliun ini nantinya akan dialokasikan untuk sektor produktif lainnya. Pemerintah ingin memastikan setiap rupiah anggaran memberikan dampak maksimal bagi kesejahteraan rakyat. Pengamat ekonomi menilai langkah ini sebagai bentuk pengelolaan fiskal yang sangat disiplin.
Masyarakat menyambut baik kepastian keberlanjutan program ini di tengah tantangan ekonomi global. Pemerintah pun terus membuka ruang evaluasi demi kesempurnaan implementasi di lapangan. Koordinasi antarlembaga kini semakin intensif guna menjamin kelancaran distribusi makanan setiap harinya.




