porenesia.com – Puluhan buruh di Kota Madiun menggelar aksi unjuk rasa memperingati Hari Buruh Internasional di Alun-alun Kota Madiun. Dalam aksi tersebut, massa mengecam peringatan May Day di Monas Jakarta yang mereka anggap sebagai pesta hura-hura belaka.
Ketua Serikat Buruh Madiun Raya (SBMR) Aris Budiono menilai aksi di Monas bukan merupakan bagian dari perjuangan buruh. Ia menyatakan pesta hura-hura baru boleh dilakukan apabila nasib seluruh buruh di Indonesia sudah benar-benar mapan. Para buruh Madiun menyoroti adanya diskriminasi dan ketimpangan upah yang sangat tajam di wilayah Jawa Timur saat ini. Upah di Madiun tercatat hanya sekitar Rp 2,5 juta, sementara di Surabaya sudah mencapai angka Rp 5 juta.
Aris menyebut kesenjangan upah tersebut hampir mencapai 100 persen meskipun harga kebutuhan pokok di kedua wilayah tersebut sama. Kondisi ini dianggap sebagai bentuk diskriminasi nyata yang merugikan para pekerja di wilayah luar kota besar. Selain isu upah, SBMR juga mengungkap fenomena penahanan ijazah karyawan yang masih marak terjadi di berbagai perusahaan. Aris siap memberikan data valid kepada pemerintah daerah untuk menindak tegas perusahaan yang masih melakukan praktik ilegal tersebut.
Setidaknya terdapat sepuluh tuntutan utama yang massa aksi suarakan dalam peringatan Hari Buruh Internasional tahun 2026 ini. Massa menuntut penghentian disparitas upah yang tidak adil serta pembangunan sistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan bermartabat. Buruh juga mendesak pengesahan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang berpihak pada rakyat serta penyediaan layanan pendidikan dan kesehatan gratis. Selain itu, mereka meminta pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok yang kian membebani ekonomi keluarga para pekerja di daerah.
Aksi unjuk rasa di Alun-alun Kota Madiun ini mendapatkan pengawalan ketat dari puluhan anggota Polres Madiun Kota. Massa membubarkan diri dengan tertib setelah menyampaikan orasi dan tuntutan mereka kepada pihak berwenang di lokasi aksi.




