porenesia.com – Gunung Semeru yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang kembali mengalami erupsi pada Minggu pagi. Petugas melaporkan tinggi kolom letusan mencapai sekitar 900 meter di atas puncak atau 4.576 meter di atas permukaan laut.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Sigit Rian Alfian mengamati kolom abu vulkanik berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal. Abu vulkanik hasil letusan tersebut terpantau bergerak tertiup angin menuju arah barat daya dari pusat kawah. Erupsi ini terekam pada alat seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 22 milimeter dengan durasi selama 111 detik. Berdasarkan data pengamatan, aktivitas kegempaan Gunung Semeru menunjukkan frekuensi letusan yang cukup tinggi dalam beberapa jam terakhir.
Dalam kurun waktu enam jam, petugas mencatat telah terjadi sebanyak 18 kali gempa letusan atau erupsi secara beruntun. Selain itu, alat pendeteksi juga merekam adanya satu kali gempa embusan, satu kali harmonik, serta gempa tektonik jauh. Saat ini status aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Level III atau kategori Siaga bagi masyarakat sekitar. Petugas melarang warga melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang wilayah Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer.
Masyarakat juga harus menjauhi area dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang aliran Besuk Kobokan tersebut. Wilayah ini memiliki potensi besar terlanda perluasan awan panas serta aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak. Petugas mengimbau warga agar selalu mewaspadai potensi guguran lava dan lahar pada lembah sungai yang berhulu di Semeru. Risiko tersebut mencakup area Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, hingga anak-anak sungai kecil dari Besuk Kobokan.
Radius aman bagi masyarakat adalah berada di luar jarak lima kilometer dari kawah atau puncak aktif Gunung Semeru. Larangan ini bertujuan untuk menghindari bahaya lontaran batu pijar yang bisa terjadi sewaktu-waktu saat erupsi berlangsung.




