porenesia.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran menjelang berakhirnya masa gencatan senjata pekan ini.
Trump memperingatkan bahwa situasi militer akan kembali memanas jika kesepakatan damai tidak segera tercapai. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah ketidakpastian proses diplomasi yang sedang berlangsung saat ini. Ia menegaskan bahwa banyak bom akan mulai meledak apabila gencatan senjata berakhir tanpa hasil nyata. Masa tenang yang dimulai sejak awal April tersebut dijadwalkan berakhir pada Rabu malam waktu setempat. Trump menyebut peluang perpanjangan gencatan senjata sangat kecil tanpa adanya komitmen dari pihak Teheran.
Data kemanusiaan menunjukkan ribuan warga sipil telah menjadi korban sebelum kesepakatan gencatan senjata diberlakukan. Di tengah ancaman tersebut, delegasi tingkat tinggi Amerika Serikat dijadwalkan terbang menuju Islamabad, Pakistan. Wakil Presiden JD Vance akan memimpin perundingan putaran kedua bersama utusan khusus lainnya. Namun pihak Kementerian Luar Negeri Iran justru memberikan sinyal yang tidak konsisten terkait kehadiran mereka. Teheran menyatakan belum memiliki rencana pasti untuk mengikuti putaran negosiasi berikutnya dengan pihak Washington.
Sementara itu, mediator dari Pakistan melaporkan adanya hambatan teknis terkait blokade di Selat Hormuz. Trump membantah telah diminta untuk mencabut blokade pelabuhan sebelum kesepakatan resmi ditandatangani kedua pihak. Ia menekankan bahwa tujuan utama dari negosiasi ini hanyalah untuk mencegah kepemilikan senjata nuklir. Baginya, syarat tersebut merupakan hal mendasar yang tidak bisa ditawar lagi dalam meja perundingan.
Dunia internasional kini menanti kepastian apakah delegasi Iran akan hadir di meja diplomasi Islamabad. Kegagalan pertemuan ini dikhawatirkan akan memicu kembali eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah. Trump menyatakan tidak keberatan jika Iran memilih absen, namun konsekuensi militer tetap akan berjalan. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai waktu keberangkatan delegasi Amerika ke Pakistan.




