Pada 12 September lalu, belasan orang berkumpul di Margin Space untuk sebuah diskusi tentang komik Indonesia bertajuk Reflecting Indonesian Comics: Then, Now and Future. Yang membuat forum ini berbeda dari diskusi komik pada umumnya adalah komposisinya: bukan hanya orang-orang yang hidup di dalam skena, tetapi juga orang-orang dari luar, dari sektor yang berhubungan dengan kebijakan publik, ekonomi kreatif, dan pemerintahan. Kami mengira akan membicarakan hal-hal yang sudah terlalu sering dibicarakan: identitas visual komik Indonesia, tren genre, strategi pemasaran. Yang terjadi justru sebaliknya.
Diskusi bergerak ke tempat yang jarang dikunjungi: ke pertanyaan-pertanyaan struktural tentang hubungan antara negara dan ekosistem kreatif. Bagaimana komunitas bisa membangun kekuatan secara bottom-up? Bagaimana kepentingan praktisi diartikulasikan ke dalam ruang pengambilan keputusan yang selama ini hampir tidak pernah terbuka untuk mereka? Dan pertanyaan yang paling mendasar: di mana sebenarnya peran negara dalam ekosistem komik Indonesia, sebelum karya-karya itu berhasil, bukan setelahnya?
Negara yang Hadir di Akhir, Lalu Mengklaim Panggungnya
Salah satu pola yang paling konsisten dalam hubungan antara negara dan pelaku kreatif Indonesia adalah apa yang bisa disebut sebagai kehadiran oportunistik. Pemerintah hampir tidak pernah hadir ketika ekosistem masih berjuang: ketika komikus bekerja tanpa modal, tanpa distribusi yang memadai, tanpa perlindungan kontrak, dan tanpa kepastian bahwa karya mereka akan menemukan pembacanya. Tetapi ketika sebuah karya atau komikus berhasil menembus pasar internasional atau mendapat pengakuan global, tiba-tiba negara hadir, mengangkat pencapaian itu ke pameran internasional, membingkainya sebagai bukti keberhasilan kebijakan ekonomi kreatif nasional, dan memotret dirinya bersama karya yang tidak pernah benar-benar ia bantu lahirkan.
Ini bukan spekulasi. Diskusi tertutup dalam forum tersebut mengumpulkan kesaksian dari praktisi berbagai bidang yang semuanya menggambarkan pola yang sama: keberhasilan datang bukan karena sistem, tetapi meskipun sistem tidak mendukung. Apa yang kita lihat dipamerkan di eksibisi internasional atas nama Indonesia adalah hasil kerja keras individu dan komunitas yang berhasil bertahan dalam ekosistem yang tidak mendukung mereka, bukan produk dari kebijakan yang dirancang untuk menghasilkan mereka.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah temuan tentang bagaimana kebijakan publik kini dibuat. Forum ini mengungkap bahwa negara saat ini sangat bergantung pada AI crawl dari internet sebagai sumber informasi kebijakan kemudian menyaring isu-isu yang viral sebagai proxy dari kepentingan publik. Konsultasi publik konvensional lewat public hearing, evaluasi partisipatif, dialog yang berkelanjutan dengan komunitas bisa dipangkas demi kecepatan. Artinya, satu-satunya cara bagi komunitas untuk “hadir” dalam benak pembuat kebijakan adalah dengan menjadi cukup viral di ruang digital agar terpantau oleh radar kebijakan. Ini adalah pergeseran yang serius dan berbahaya: kebijakan yang dibentuk oleh tren internet, bukan oleh kebutuhan nyata di lapangan.
Namun temuan ini juga membuka peluang strategis yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh komunitas komik. Jika kebijakan dibentuk oleh narasi yang beredar di internet, maka aktivis komik perlu mengubah strateginya: dari sekadar bersuara di kolom komentar media sosial, menuju presence yang lebih kuat dan lebih argumentatif dalam bentuk tulisan (mis:artikel, esai, laporan publik) yang cukup substansif untuk membentuk narasi, bukan hanya merespons tren.
Salah satu sesi yang paling menarik dalam forum ini adalah sub-aktivitas bertajuk Kill My Assumption, di mana para insider ekosistem komik mengajukan asumsi-asumsi yang selama ini mereka pegang untuk diuji, ditantang, dan jika perlu, dipatahkan oleh peserta dari luar komunitas. Latihan ini terasa sederhana, tetapi dampaknya jauh melampaui ekspektasi.
Satu asumsi yang diajukan dan kemudian menjadi titik diskusi paling hidup adalah pertanyaan tentang identitas budaya dalam komik Indonesia: apakah komik Indonesia harus menampilkan hard culture seperti wayang, batik, motif etnik, tarian tradisional untuk bisa dikenal sebagai representasi identitas budaya Indonesia di pasar global? Asumsi umum yang beredar selama ini adalah ya. Forum justru mempersoalkannya.
Diskusi dimulai dengan sebuah pertanyaan kritis yang jarang diajukan: “budaya” yang mana yang sebenarnya sedang kita bicarakan? Artefak budaya seperti wayang, batik, dan tarian telah lama menjadi reduksionisme identitas, sebuah cara mudah untuk menandai “ke-Indonesia-an” yang bisa dilihat, dipotret, dan dipromosikan ke luar negeri. Tapi apakah itu sungguh-sungguh representasi budaya Indonesia, atau hanya surface signifiers yang nyaman karena mudah diukur dan mudah dijual?
Forum mengusulkan perspektif yang berbeda: bahwa identitas budaya yang sesungguhnya bukan terletak pada artefak, melainkan pada cultural practices, logika, dan nilai-nilai yang membentuk cara hidup sehari-hari. Dan jika kita jujur, budaya Indonesia juga mencakup hal-hal yang tidak nyaman untuk dipamerkan: korupsi yang dinormalisasi, jam karet sebagai cara pandang terhadap waktu, kabut asap yang berulang tanpa penyelesaian sistemik. Jepang tidak segan menampilkan karoshi (mati karena kelelahan kerja), xenofobia, dan tekanan sosial yang menghancurkan dalam komik dan anime-nya, justru karena kejujuran itu yang membuat karya-karya tersebut beresonansi secara universal. Bukan karena kimono dan sakura-nya.
Ini adalah implikasi yang cukup radikal untuk cara komik Indonesia memposisikan dirinya: bahwa relevansi global tidak dicapai dengan mempertebal lapisan surface culture, tetapi dengan keberanian untuk menggali ke dalam realita yang sesungguhnya; termasuk realita yang tidak nyaman, tidak cantik, dan tidak mudah dijadikan bahan promosi pariwisata.
Validasi Internasional Bukan Jaminan Ekonomi
Forum juga mempersoalkan logika nation branding yang selama ini mendominasi cara pemerintah memandang peran budaya kreatif. Kemampuan pemerintah untuk berpikir dalam kerangka nation branding yang menggunakan budaya permukaan yang tangibel, terlihat, dan terukur memang jauh lebih mudah dioperasionalkan dibandingkan membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan. Rekognisi internasional dianggap sebagai tujuan, padahal rekognisi tidak otomatis menghasilkan konversi ekonomi yang berarti bagi para praktisinya.
Lebih jauh lagi, citra positif yang dibangun dengan susah payah melalui soft power budaya kreatif bisa runtuh seketika oleh kegagalan kebijakan di bidang lain. Kebakaran hutan yang berulang dan kegagalan menanganinya, misalnya, secara langsung merusak narasi Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya dan bertanggung jawab; tidak peduli seberapa banyak komik atau film Indonesia dipamerkan di festival internasional. Soft power tidak bisa berdiri sendiri tanpa hard governance yang mendukungnya.
Komik Indonesia Harus Keluar dari Echo Chamber-nya
Mungkin pelajaran terpenting dari forum ini bukan tentang kebijakan atau strategi, tetapi tentang cara komunitas komik Indonesia berbicara tentang dirinya sendiri. Selama ini, percakapan tentang komik Indonesia hampir selalu terjadi di dalam komunitas itu sendiri, yakni antara komikus, penggemar, dan orang-orang yang sudah percaya bahwa komik Indonesia penting. Lingkaran ini nyaman, tetapi berbahaya: ia menciptakan echo chamber dan verification bias yang membuat komunitas terus meyakini asumsi-asumsi yang tidak pernah diuji oleh perspektif dari luar.
Forum di Margin Space membuktikan bahwa membawa outsider ke dalam percakapan dapat menghasilkan sesuatu yang sangat berharga: verifikasi bahwa pola-pola yang dirasakan komunitas komik bukanlah keunikan mereka, melainkan bagian dari kegagalan sistemik yang lebih besar. Tabiat pemerintah yang reaktif, performatif, dan tidak berdampak bukan hanya dialami oleh komik Indonesia; ia adalah karakter yang hampir universal dalam hubungan antara negara dan sektor kreatif.
Masalah komik Indonesia jauh lebih besar dan lebih luas dari yang biasa kita bicarakan di dalam komunitas. Dan justru karena itu, percakapan tentangnya harus jauh lebih inklusif dari yang selama ini kita lakukan.
Tentang Penulis:
Gideon Hutapea adalah komikus, kartunis editorial Harian Kompas, dan kandidat doktor di RMIT University, Melbourne, meneliti transformasi ekosistem komik Indonesia.





