Prafi, Manokwari – Tim 4 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (TEP UNAIR) bersama Fakultas Psikologi UNAIR melatih kader perempuan dari kelompok Posyandu, PKK, dan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Pelatihan digelar Sabtu (19/9/2026) dan diikuti perwakilan dari tujuh kampung sasaran, yaitu Ingkuwaisi, Prafi Mulya, Desay, Bedip Matoa, Udapi Hilir, Aimasi, dan Lismaungu.
Kegiatan berlangsung di Balai Kampung Prafi Mulya dengan diikuti 25 peserta. Para kader ini merupakan ujung tombak layanan sosial dan kesehatan di kampung masing masing, sehingga penguatan kapasitas psikologis mereka diharapkan berdampak langsung pada warga yang mereka dampingi sehari hari.
Sejumlah tamu undangan turut hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Kepala Puskesmas Distrik Prafi, Kepala Distrik Prafi, dan Kepala Kampung Prafi Mulya. Kehadiran unsur pemerintah distrik dan kampung ini menunjukkan dukungan lintas sektor terhadap program penguatan kesehatan jiwa yang dijalankan di wilayah tersebut. Narasumber yang dihadirkan yakni dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Jawa Timur.
Pelatihan menyajikan tiga materi utama yang masing masing menyasar kelompok warga berbeda. Materi pertama, Komunikasi Empatik dan Pengasuhan Positif untuk Kader, membekali kader cara berkomunikasi yang suportif kepada anak dan remaja di kampung, sekaligus relevan dengan peran kader sebagai penggerak PATBM. Materi kedua, Penguatan Efikasi Diri Kader dalam Mendampingi Lansia, disiapkan mengingat peran kader Posyandu yang juga menjangkau kelompok usia lanjut. Materi ketiga, Self Compassion untuk Ibu Hamil hingga Melahirkan, disampaikan agar kader mampu mendampingi ibu hamil dan pascamelahirkan yang rentan mengalami tekanan psikologis, termasuk risiko baby blues.
Peserta mengikuti kegiatan dengan antusias, baik perwakilan dari kampung transmigrasi maupun kampung lokal. Antusiasme ini terlihat karena pelatihan tidak dilakukan satu arah saja, melainkan dibekali pula dengan praktik langsung sehingga berjalan efektif dan efisien sampai acara berakhir.
Di penghujung kegiatan, narasumber dan tim menyerahkan modul dari ketiga materi yang disampaikan, ditambah satu modul lain yaitu Pengasuhan Positif untuk Orang Tua. Selain menerima modul, para kader juga diberi kesempatan menyusun rencana aksi sesuai kebutuhan kampung masing masing, agar Tim 4 TEP UNAIR dapat melaksanakan pendampingan lanjutan secara efektif dan efisien.
Pada isu lansia, data Badan Pusat Statistik mencatat penduduk lansia Indonesia mencapai 10,48 persen pada 2022, dengan Papua menjadi provinsi dengan proporsi lansia terendah secara nasional yaitu 5,02 persen. Meski proporsinya masih rendah dibanding provinsi lain, tren peningkatan usia harapan hidup membuat kebutuhan pendampingan psikologis lansia di Papua Barat, termasuk Distrik Prafi, tetap perlu diantisipasi sejak dini. Riset di berbagai daerah menunjukkan depresi menjadi gangguan jiwa yang paling umum dialami lansia dan kerap tidak terdeteksi karena dianggap bagian alami dari penuaan, sehingga peran kader menjadi penting untuk deteksi dini di tingkat komunitas.
Adapun pada isu kesehatan jiwa ibu hamil dan pascamelahirkan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkap bahwa 57 persen ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues, menjadikan Indonesia negara dengan risiko baby blues tertinggi di Asia. Sementara itu, analisis Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 terhadap 26.656 ibu pascapersalinan di seluruh Indonesia menemukan prevalensi depresi pascapersalinan sebesar 3,0 persen. Kesenjangan antara angka baby blues yang tinggi dan depresi pascapersalinan yang lebih rendah ini menunjukkan pentingnya deteksi dini di tingkat kampung, sebelum kondisi ringan berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.
Distrik Prafi merupakan kawasan transmigrasi yang tumbuh sejak dekade 1970-an dengan komposisi warga transmigran dan penduduk lokal Papua yang hidup berdampingan. Kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri dalam pendampingan psikososial, karena kebutuhan dan pola relasi sosial di tiap kampung tidak sepenuhnya seragam. Keterlibatan kader Posyandu, PKK, dan PATBM yang berasal dari kampung sendiri dinilai menjadi kekuatan utama, karena mereka telah mengenal karakter warga dan memiliki akses yang lebih mudah dibanding pendamping dari luar.
Program ini turut mendukung tiga tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan mendukung terciptanya peningkatan pendidikan yang berkualitas, serta kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Fakultas Psikologi UNAIR, Tim 4 TEP UNAIR, HIMPSI Jawa Timur, Puskesmas, hingga pemerintah distrik dan kampung.
Bagi Tim 4 TEP UNAIR dan Fakultas Psikologi UNAIR, pelatihan kader dewasa ini menjadi pelengkap dari sistem dukungan psikososial yang tengah dibangun di Distrik Prafi, yang kini melibatkan remaja di sekolah dan kader perempuan di kampung sebagai penggerak utamanya.





