Chief Executive Officer (CEO) Es Teler 77 Yenny Widjaja mengatakan perusahaan tidak bisa serta-merta menaikkan harga ketika biaya meningkat.
Pelaku usaha makanan dan minuman atau F&B memilih melakukan efisiensi dan menyesuaikan produk untuk menjaga margin keuntungan di tengah persaingan bisnis dan perubahan daya beli konsumen.
Strategi tersebut dilakukan bersamaan dengan pemanfaatan kanal digital untuk memperluas penjualan dan menjangkau konsumen yang lebih muda.
Chief Executive Officer (CEO) Es Teler 77 Yenny Widjaja mengatakan perusahaan tidak bisa serta-merta menaikkan harga ketika biaya meningkat.
Menurut dia, daya beli konsumen tetap menjadi pertimbangan dalam menentukan harga jual. “Memang terus terang, F&B zaman sekarang itu enggak mudah. Dengan persaingan yang begitu tinggi, kami juga enggak bisa jual seenaknya,” ujar Yenny dalam acara bersama TikTok Go by Tokopedia di Jakarta, Kamis, 24 September 2026.
Yenny mengatakan perusahaan menghitung bagian bisnis yang dapat diefisienkan serta memilih produk yang sesuai dengan kondisi pasar. Strategi harga juga disesuaikan dengan kanal penjualan.
“Kami berusaha untuk menghitung efisiensi di mana, bagian-bagian mana yang kami efisiensi, lalu juga mencari produk-produknya,” ujarnya.
Menurut Yenny, produk yang dijual melalui kanal digital dapat ditawarkan dengan harga berbeda dari gerai. Salah satunya nasi goreng yang dijual sekitar Rp 35 ribu di gerai, sedangkan melalui kanal digital dapat ditawarkan sekitar Rp 15 ribu-Rp 20 ribu.
“Karena, apalagi di TikTok Go by Tokopedia, murah banget. Tapi kami tetap masih hitung-hitung, tetap masih untung,” ujar Yenny.
Selain menyesuaikan harga, Es Teler 77 mengembangkan produk mengikuti tren konsumen muda. Perusahaan antara lain menyediakan produk less sugar dan makanan yang sesuai dengan minat konsumen yang lebih muda. Strategi digital juga menunjukkan kontribusi terhadap penjualan.
Yenny mengatakan penjualan online Es Teler 77 melalui TikTok Go by Tokopedia mencapai sekitar 60 persen pada periode September 2025 hingga September 2026.
Salah satu produk Es Teler berukuran mini yang dijual pada harga Rp 7.000 mendapat respons besar ketika diperkenalkan melalui kanal tersebut. Produk serupa di gerai dijual Rp 44 ribu. Menurut Yenny, penjualan produk mini itu sempat mencapai hampir ratusan ribu gelas per hari.
Sementara itu, Amor Cakes & Bakery mencatat omzet meningkat 117 persen pada Januari-Agustus 2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sekitar 30 persen dari total omzet perusahaan disebut berasal dari TikTok Go by Tokopedia, sedangkan kontribusinya terhadap keseluruhan penjualan online mencapai sekitar 70 persen.
Perusahaan juga mencatat peningkatan transaksi melalui aktivitas live. Transaksi yang terjadi langsung melalui live disebut meningkat hingga 1.100 persen, sedangkan perkembangan konten video pendek mencapai lebih dari 350 persen.
Di sisi ekspansi, salah satu pelaku usaha yang hadir dalam acara tersebut menargetkan pertumbuhan bisnis hingga dua kali lipat pada tahun ini. Es Teler 77 menargetkan peningkatan pendapatan sekitar 30-35 persen melalui pembukaan gerai baru.
Para pelaku usaha juga menyatakan akan menyesuaikan struktur bisnis dengan ketentuan perpajakan yang berlaku. Salah satu perwakilan usaha mengatakan strategi perpajakan tetap akan diarahkan agar bisnis berjalan sesuai ketentuan.





