porenesia.com – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria menegaskan jurnalisme profesional tetap memegang peran penting sebagai penjaga fakta dan kepercayaan publik di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta dominasi algoritma platform digital.
Menurut Nezar, persaingan di ruang digital saat ini tidak lagi sebatas memperebutkan informasi, tetapi juga membentuk persepsi publik. Karena itu, media arus utama dituntut tetap mengedepankan akurasi, verifikasi, etika, dan kredibilitas dalam setiap produk jurnalistiknya.
“Jurnalisme harus mendapatkan satu momentum yang tepat untuk bisa kembali merebut perhatian. Karena algoritma dari platform yang dipakai untuk menyebarkan informasi bekerja menarik atensi kita, akan tetapi jurnalisme dibutuhkan sebagai ruang penjernih informasi,” kata Nezar saat menghadiri Radar Surabaya Awards 2026 di Surabaya, Kamis (30/7/2026).
Ia menjelaskan perkembangan teknologi AI turut menghadirkan tantangan baru bagi industri media. Kini, teknologi mampu menghasilkan artikel, gambar, hingga video yang tampak autentik, termasuk konten manipulatif seperti deepfake, sehingga meningkatkan risiko penyebaran disinformasi.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat semakin sulit membedakan informasi yang benar apabila tidak diimbangi praktik jurnalistik yang profesional.
Nezar menilai tantangan ruang digital saat ini bukan hanya derasnya arus informasi, tetapi juga cara algoritma media sosial membentuk perhatian publik melalui mekanisme echo chamber dan filter bubble. Situasi tersebut berpotensi membuat masyarakat terus menerima informasi yang seragam tanpa memiliki ruang untuk menguji kebenarannya.
“Yang kita hadapi hari ini bukan hanya kompetisi informasi, tetapi juga kompetisi membentuk persepsi. Karena itu, masyarakat membutuhkan media yang bekerja berdasarkan verifikasi, bukan sekadar mengejar viralitas,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nezar juga menyoroti pentingnya peran media lokal dalam menjaga kualitas ruang informasi nasional. Menurutnya, media lokal memiliki kedekatan dengan masyarakat sehingga mampu menghadirkan informasi yang lebih autentik sekaligus menangkap persoalan sosial, ekonomi, maupun pelayanan publik sejak dini.
“Media lokal menghadirkan percakapan publik yang lebih autentik karena memiliki kedekatan dengan masyarakat. Dari media lokal kita bisa membaca berbagai persoalan secara lebih utuh sebelum berkembang menjadi isu yang lebih besar,” katanya.
Ia menambahkan, kemampuan media lokal membangun kepercayaan publik menjadi modal penting dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat. Di tengah derasnya arus konten digital, media yang tetap berpegang pada kode etik jurnalistik dinilai menjadi fondasi bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Nezar mengatakan pandangan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital dalam mewujudkan ruang digital Indonesia yang aman, tepercaya, dan berkualitas melalui penguatan tata kelola ruang digital, penanganan disinformasi, peningkatan literasi digital, serta pemanfaatan AI secara bertanggung jawab.
Menutup sambutannya, Nezar mengajak insan pers untuk terus menjaga kualitas jurnalisme di tengah disrupsi teknologi. Ia meyakini kepercayaan publik hanya dapat dibangun melalui kerja jurnalistik yang mengedepankan fakta, akurasi, dan integritas.
“Selama media tetap memegang teguh kode etik jurnalistik, saya yakin jurnalisme akan tetap menjadi rujukan publik dan terus relevan di era digital,” pungkasnya.





