porenesia.com – Perjalanan tim nasional Iran di panggung akbar Piala Dunia 2026 harus diwarnai gejolak luar lapangan yang sangat serius. Kapten tim, Mehdi Taremi, melayangkan kritik keras dan terbuka yang ditujukan langsung kepada federasi sepak bola dunia (FIFA) beserta sang presiden, Gianni Infantino. Penyerang andalan tersebut menilai turnamen edisi kali ini berjalan tidak profesional serta sangat merugikan skuadnya dari sisi pemenuhan logistik dan pengurusan dokumen visa. Puncak rasa frustrasi armada Team Melli ini meledak setelah mereka hanya mampu bermain imbang 1-1 kala bersua Mesir pada laga pamungkas Grup G.
Pertandingan penentu antara Iran melawan Mesir sendiri berlangsung di Stadion Seattle, Washington, Amerika Serikat. Akibat kendala administratif birokrasi yang tidak kunjung menemui titik temu, 11 pejabat senior tim yang mengurus operasional harian dilarang masuk ke wilayah AS. Situasi pelik ini memaksa para pemain melakukan perjalanan bolak-balik yang sangat menguras stamina antara markas latihan darurat mereka di Tijuana, Meksiko, menuju lokasi pertandingan di Amerika Serikat. Pola mobilisasi lintas batas negara tersebut dinilai merusak stabilitas fisik dan mental bertanding pemain.
Sebut Turnamen Kacau dan Layaknya Bencana
Mehdi Taremi secara blak-blakan mengungkapkan kekecewaannya terhadap janji manis penuntasan masalah yang sempat dilontarkan oleh Gianni Infantino. Mantan penyerang Inter Milan tersebut menegaskan bahwa jaminan kenyamanan pasca-laga pembuka kontra Selandia Baru hanyalah isapan jempol belaka karena kenyataan di lapangan tidak berubah. “Ini adalah Piala Dunia yang kacau; sebuah bencana,” cetus Taremi seperti dikutip dari laporan The Athletic. Menurutnya, ketiadaan tim pemulihan fisik (recovery) membuat para pemain kelelahan karena harus terus-menerus bepergian dari Tijuana.
| Kendala Operasional Timnas Iran | Dampak Langsung pada Skuad |
| Boikot Visa oleh Tuan Rumah | 11 Pejabat Senior Logistik Absen Mendampingi |
| Konflik Politik Regional | Basis Latihan Terpaksa Pindah dari Arizona ke Meksiko |
| Pembatasan Jadwal Tiba | Dilarang Datang Lebih Awal Sebelum Jadwal Laga |
| Kelelahan Fisik Ekstrem | Pemain Harus Mobilisasi Lintas Batas AS-Meksiko |
Taremi menambahkan bahwa perlakuan diskriminatif yang dialami negaranya mencerminkan ketidakadilan nyata di panggung olahraga global. Ia merasa seolah ada pihak yang sengaja menginginkan timnas Iran tersingkir lebih cepat dari turnamen dengan cara dipersulit di luar lapangan teknis. Skuad Iran merasa berjuang sendirian tanpa adanya proteksi regulasi yang konkret dari komite eksekutif FIFA. Meskipun mencintai kehangatan dan keramahan warga lokal di Tijuana yang menjadi tempat bernaung sementara, Taremi menegaskan pola kompetisi seperti ini sangat jauh dari standar profesionalisme.
Pelatih Tuntut Ketegasan Sikap Gianni Infantino
Senada dengan sang kapten, pelatih kepala Amir Ghalenoei turut mengecam keras kebijakan ketat yang diterapkan oleh otoritas Amerika Serikat selaku salah satu tuan rumah bersama. Menurut jajaran staf pelatih, pemindahan paksa basis latihan dari Arizona ke wilayah Meksiko telah merusak program periodisasi latihan taktis yang telah disusun lama. Ghalenoei mendesak agar Gianni Infantino berani mengambil sikap tegas dan memberikan sanksi moral agar kesewenang-wenangan negara tuan rumah terhadap tim peserta tidak kembali terulang di masa depan.
Pihak keamanan setempat bahkan dilaporkan melarang skuad Iran untuk mendarat dua minggu maupun dua hari lebih awal di kota tempat pertandingan akan digelar. Kendati dihantam badai boikot administratif dan ketegangan politik global, Ghalenoei mengaku sangat bangga dengan daya juang militan yang dipertontonkan anak asuhnya di lapangan hijau. Mampu tampil solid dan menahan imbang tim-tim raksasa di tengah keterbatasan fasilitas logistik dinilai sebagai pencapaian kemanusiaan terbesar yang berhasil ditunjukkan oleh para ksatria Persia kepada dunia.





