Jutaan Keluarga Berisiko Stunting, Mendukbangga Soroti Minimnya Akses Jamban dan Air Bersih

"Dari data tersebut 8,1 juta terdiri dari 2,9 juta tidak memiliki jamban yang layak, 1,7 juta tidak memiliki air minum layak," kata Wihaji.
Mendukbangga
Mendukbangga

porenesia.com – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji memaparkan data mengejutkan mengenai kondisi kesejahteraan sosial di tanah air. Berdasarkan hasil pendataan keluarga berkala, tercatat sebanyak 8,1 juta keluarga yang masuk dalam kategori berisiko stunting masih belum memiliki fasilitas sanitasi berupa jamban dan akses air minum yang layak. Fakta krusial ini disampaikan langsung dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan. Pemerintah menilai persoalan infrastruktur dasar yang buruk menjadi salah satu faktor determinan utama yang menghambat percepatan penurunan angka stunting nasional.

Dalam pemaparannya, Wihaji merinci potret miris profil data Keluarga Berisiko Stunting (KRS) di Indonesia. Dari total puluhan juta keluarga dengan pasangan usia subur, ibu hamil, serta balita yang didata, sekitar 8,1 juta di antaranya teridentifikasi berada dalam zona bahaya gizi buruk. Secara lebih mendalam, sebanyak 2,9 juta keluarga terbukti sama sekali tidak memiliki fasilitas pembuangan atau jamban yang memenuhi standar kesehatan. Kondisi lingkungan yang tidak higienis seperti ini berpotensi besar memicu berbagai penyakit infeksi pencernaan yang pada akhirnya mengganggu proses penyerapan nutrisi tumbuh kembang anak-anak.

Ketimpangan Air Bersih dan Pola Asuh Pasangan

Selain masalah sanitasi buruk, masalah keterbatasan pasokan air bersih juga menjadi pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan. Data kementerian menunjukkan sebanyak 1,7 juta keluarga berisiko stunting tidak memiliki akses terhadap sumber air minum utama yang layak konsumsi sehari-hari. Faktor risiko ini diperparah oleh masalah pola asuh dan perencanaan keluarga di tingkat domestik. Tercatat ada sekitar 4,3 juta Pasangan Usia Subur (PUS) yang masuk dalam kategori “4 Terlalu”, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak anak, serta jarak melahirkan yang terlalu sering, namun belum tersentuh layanan KB modern.

Kombinasi antara kemiskinan struktural, minimnya fasilitas sanitasi, serta rendahnya edukasi reproduksi ini menciptakan lingkaran setan yang terus mengancam kualitas generasi masa depan bangsa. Oleh karena itu, kementerian menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa lagi dipandang hanya dari sudut pandang pemenuhan sektor kesehatan murni seperti pemberian obat dan vitamin. Diperlukan sebuah langkah revolusioner yang menyasar perbaikan kualitas hidup dan penataan lingkungan pemukiman warga miskin secara menyeluruh. Pemerintah berkomitmen penuh untuk meruntuhkan ego sektoral demi menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia.

Optimalisasi Program Gerakan Orang Tua Asuh

Melihat kompleksitas kondisi di lapangan, pemerintah terus bergerak mengoptimalkan berbagai program intervensi spesifik dan sensitif. Salah satu strategi andalan yang dinilai sukses berjalan adalah program “Genting” atau Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Capaian realisasi program gotong royong ini dilaporkan telah melampaui target dengan berhasil merangkul lebih dari 1,6 juta keluarga asuh. Fokus utama gerakan ini diarahkan pada pemberian edukasi pola asuh, bantuan paket nutrisi bergizi tinggi, penyediaan sarana air bersih, pembuatan jamban sehat, hingga pemugaran rumah tidak layak huni.

Mendukbangga sangat berharap adanya komitmen kuat berupa sinkronisasi kebijakan dari seluruh lembaga pemangku kepentingan, termasuk dukungan penuh anggaran dari jajaran anggota legislatif. Pasalnya, pemenuhan infrastruktur vital seperti sanitasi pemukiman dan jaringan air bersih secara struktural berada di bawah wewenang kementerian teknis lain di luar ranah BKKBN. Sinergi lintas sektoral yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan parlemen menjadi kunci mutlak agar jutaan keluarga miskin dapat segera keluar dari lingkaran risiko stunting secara berkelanjutan.