Shine atau Resign: Bukan Soal Pilihan, Tapi Cara Bertahan

"Shine or Resign ini bukan soal mana lebih baik, tapi gimana kita bisa beradaptasi dengan kondisi kita masing-masing," ujar William Sudhana.
Dokumentasi Kegiatan Manager Fest 2026
Dokumentasi Kegiatan Manager Fest 2026

porenesia.com — Di tengah perubahan dunia kerja yang makin cepat, pertanyaan soal karier kini tak lagi sesederhana bertahan atau pergi. Bagi banyak profesional, terutama middle manager, pilihan itu semakin kompleks dan sering kali personal.

Isu ini mengemuka dalam sesi ManagerFest x KULI: Mikir Bareng bertajuk “Shine or Resign? What Will Happen in a Company Without Middle Managers” yang digelar di FX Sudirman, Jakarta. Diskusi ini mempertemukan dua perspektif yang kerap dipertentangkan, tetapi jarang dibicarakan secara terbuka. Dipandu oleh William Sudhana dan Desiree Nasfhia, forum ini tidak berangkat dari asumsi bahwa salah satu pilihan lebih unggul. Justru sebaliknya, diskusi dibuka dengan pengakuan bahwa setiap orang berada dalam kondisi yang berbeda.

“Shine or Resign ini bukan soal mana lebih baik, tapi gimana kita bisa beradaptasi dengan kondisi kita masing-masing. Ada yang harus bayar monthly bill tiap bulan, ada yang punya privilese untuk resign sesuka hati. Tapi di luar itu, gimana kita terus upgrade diri kita, memanfaatkan teknologi untuk bisa menyelesaikan lebih banyak problem di sekitar kita, yang akhirnya membawa kita ke ragam peluang baru,” ujar William.

Dalam konteks itu, peran middle manager menjadi semakin rumit. Mereka dituntut menjadi pemimpin strategis, tetapi dalam praktiknya masih terjebak dalam pekerjaan administratif dan operasional yang menyita waktu. Di saat yang sama, perkembangan teknologi, termasuk AI, mulai menggeser sebagian fungsi mereka. Akibatnya, ukuran keberhasilan pun berubah. Bukan lagi sekadar soal performa kerja, tetapi juga tentang visibilitas dan relevansi di dalam organisasi maupun pasar tenaga kerja.

Bagi Lydia Kusnadi, bertahan atau shine berarti mampu membaca sistem dan membangun posisi yang tepat di dalamnya. “Banyak profesional gagal bukan karena tidak mampu, melainkan karena tidak terlihat. Baik shine maupun resign, keduanya butuh nyali. Bertahan berarti mau tampil, bersuara, dan keluar dari bayang-bayang orang lain, atau juga tahan untuk ada di dalam ‘politik’ kantor misalnya. Sedangkan resign menantang kita untuk melompat ke ketidakpastian dan menghadapi challenge yang baru. Ini bukan soal mencari jalan yang lebih baik, tapi jalan mana yang berani kita pertanggungjawabkan.”

Sementara itu, Ogi Wicaksana melihat bahwa bertahan terlalu lama justru tidak jarang menghambat pertumbuhan karir. “Dalam banyak kasus, berpindah kerja menjadi cara yang lebih cepat untuk meningkatkan exposure dan nilai karier. Pada akhirnya berpindah atau bertahan sama-sama harus dimulai dari pandangan bahwa perusahaan dan karyawan memiliki status yang setara. Oleh karena itu, kita harus menemukan alasan riil mengapa harus bertahan, atau bahkan mungkin berpindah tempat kerja.”

Perdebatan ini tidak menghasilkan jawaban tunggal. Namun justru di situlah nilai diskusi ini: membuka ruang bagi para profesional untuk menilai ulang pilihan mereka sendiri, tanpa tekanan untuk mengikuti satu narasi tertentu. Pada akhirnya, pertanyaan tentang shine atau resign bukan lagi soal keberanian mengambil risiko atau kesetiaan terhadap perusahaan. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: sejauh mana seseorang mampu beradaptasi, berkembang, dan tetap bernilai di tengah perubahan. Dan hal itulah yang tersirat sepanjang diskusi, jawabannya tidak selalu harus satu.