porenesia.com – Fenomena aksi begal jalanan dilaporkan kembali marak terjadi di sejumlah wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Para pakar menilai maraknya kasus ini bukan sekadar aksi kriminalitas individu biasa melainkan cerminan masalah struktural.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta Rakhmat Hidayat menjelaskan tekanan ekonomi dan minimnya akses legal menciptakan frustrasi sosial. Kondisi pelik pada kelompok masyarakat rentan tersebut akhirnya berujung pada peningkatan tindakan kriminalitas di ruang publik.
Rakhmat mendorong aparat penegak hukum untuk bersikap konsisten serta responsif dalam menindak para pelaku begal. Selain itu, penguatan kontrol sosial melalui komunitas dinilai menjadi kunci utama untuk merebut kembali rasa aman.
Masyarakat urban perlu mengaktifkan kembali sistem pengawasan kolektif seperti kegiatan ronda malam di lingkungan masing-masing. Di sisi lain, Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala menyoroti efektivitas pola kejahatan yang digunakan pelaku.
Adrianus menilai aksi begal terus muncul karena metodenya masih dianggap sangat ampuh untuk melumpuhkan korban. Para pelaku kejahatan ini selalu mengandalkan kombinasi antara kecepatan, unsur kejutan, serta tindakan intimidasi di lapangan.
Menurutnya, keberhasilan aksi terdahulu akan memicu para pelaku untuk mencoba hal serupa secara berulang di kemudian hari. Kepolisian perlu memetakan titik rawan guna memutus rantai pola kejahatan jalanan yang meresahkan warga Jakarta.





