porenesia.com – Sikap Pemerintah Amerika Serikat yang mulai menghindari opsi serangan militer baru ke Iran memicu keretakan hubungan dengan Israel. Washington kini tidak lagi menempatkan opsi serangan bersenjata sebagai instrumen tekanan utama terhadap pemerintah Teheran.
Langkah perdamaian dari pihak Gedung Putih tersebut berjalan seiring berlakunya kesepakatan gencatan senjata yang mereka inisiasi. Namun, sejumlah tokoh politik dan media sayap kanan di Israel justru menolak kebijakan penghentian konflik tersebut. Kalangan garis keras Israel tersebut tetap memandang jalur peperangan sebagai satu-satunya cara efektif untuk menekan Iran. Dorongan ini muncul akibat rasa kekecewaan mereka terhadap hasil operasi militer sebelumnya yang dinilai kurang memuaskan.
Perang terbuka beberapa waktu lalu dianggap belum mampu menggoyahkan stabilitas kekuasaan pemerintahan di negara Iran. Perdebatan internal di Israel semakin memanas pascaadanya dugaan kebocoran informasi rencana serangan baru terhadap Teheran.
Pembawa acara Channel 14 Shimon Riklin sempat memaparkan sejumlah lokasi strategis yang berpotensi menjadi target serangan udara. Target operasional yang ia sebutkan dalam program televisi tersebut meliputi fasilitas area penyimpanan uranium milik Iran.
Pernyataan Riklin tersebut langsung memicu gelombang kritik tajam dari para anggota parlemen di negara Israel. Meskipun Riklin berdalih pernyataannya hanya bersifat hipotetis, insiden ini memperkuat indikasi keinginan Israel melanjutkan perang.
Namun, militer Israel dinilai bakal sulit bergerak sendiri tanpa adanya persetujuan dan dukungan logistik dari AS. Hubungan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Donald Trump bahkan dilaporkan menegang lewat sambungan telepon.
Netanyahu kabarnya merasa berang karena pihak AS memaksakan penghentian konflik tanpa mempertimbangkan faktor keamanan jangka panjang Israel. PM Israel tersebut kini menggelar rapat kabinet keamanan guna membahas berbagai opsi kemungkinan memperbarui konflik.





