Dari Kartini ke Parlemen: Jejak Perempuan Politik dan Kepemimpinan yang Teruji

Kartini hari ini adalah Mereka kini memperjuangkan akses pendidikan sekaligus menempati posisi strategis dalam pengambilan keputusan.
Kartini
Kartini

porenesia.com – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April tidak lagi sekadar seremoni tahunan. Dia menjadi titik refleksi atas perjalanan panjang perempuan Indonesia, dari memperjuangkan akses pendidikan hingga menempati posisi strategis dalam pengambilan keputusan publik. Jika pada masanya Kartini membuka pintu, maka generasi hari ini mulai mengisi ruang tersebut dengan kapasitas, rekam jejak dan kepemimpinan yang terukur.

Di panggung politik nasional dan daerah, kehadiran perempuan semakin menunjukkan pergeseran penting. Mereka tidak lagi hadir sebagai pelengkap, melainkan sebagai aktor utama yang membawa perspektif, pengalaman dan pendekatan yang berbeda. Hal ini tercermin dari sejumlah tokoh perempuan yang tidak hanya memiliki ambisi politik, tetapi juga dibentuk oleh latar pendidikan yang kuat serta pengalaman jabatan yang relevan.

Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara
Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara

Salah satu figur yang menonjol adalah Sherly Tjoanda, dikenal sebagai sosok yang memegang peran penting dalam pemerintahan daerah sebagai Gubernur Maluku Utara. Dia bertanggung jawab atas pengambilan kebijakan strategis, pembangunan daerah, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di provinsi yang kaya akan sumber daya alam ini.

Kepemimpinannya menekankan pada pembangunan infrastruktur, penguatan sektor perikanan dan pariwisata, serta upaya pemerataan ekonomi di wilayah kepulauan. Selain itu, dia juga aktif mendorong transparansi pemerintahan dan partisipasi publik dalam proses pembangunan daerah.

Lulusan Inholland University of Applied Sciences, Belanda ini terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan filantropi yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat, yang pada akhirnya menjadi jembatan antara kebutuhan riil masyarakat dan agenda kebijakan.

Sosok Angela Tanoesoedibjo muncul sebagai bagian generasi muda yang memasuki pemerintahan. Ia membawa bekal pendidikan luar negeri serta pengalaman profesional dari sektor swasta. Kini, ia menerapkan pendekatan strategis dan administratif sebagai Ketua Umum Partai Perindo. Angela menghubungkan berbagai kebijakan pemerintah dengan kebutuhan riil para pelaku UMKM kreatif.

Angela Tanoesudibjo, Ketua Umum Partai Perindo
Angela Tanoesudibjo, Ketua Umum Partai Perindo

Saat menjabat sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2019–2024, Angela terlibat dalam upaya pemulihan sektor pariwisata pasca pandemi Covid-19 sekaligus mendorong penguatan ekonomi kreatif sebagai sumber pertumbuhan baru. Peran alumni Universitas New South Wales ini berlanjut dalam kepemimpinan Partai Perindo, menandai transisi dari teknokrat ke tokoh politik.

Sosok Rieke Diah Pitaloka telah lama menghiasi panggung politik Indonesia melalui perannya di parlemen. Politisi sekaligus aktris ini meraih popularitas luas di dunia hiburan sebelum menjadi anggota DPR RI. Masyarakat mulai mengenal Rieke lewat peran ikonik sebagai Oneng dalam serial Bajaj Bajuri. Karakter tersebut akhirnya membentuk citra diri yang sangat kuat di tengah kalangan masyarakat luas.

Rieke Diah Pitaloka
Rieke Diah Pitaloka

Sejak terpilih di tahun 2009 Rieke konsisten menyuarakan isu-isu kerakyatan seperti perlindungan buruh, pendidikan, dan kesejahteraan sosial, sekaligus aktif dalam berbagai diskursus kebijakan publik. Dengan latar belakang seni dan advokasi, ia menjadi salah satu figur yang menjembatani komunikasi antara masyarakat dan pemerintah.

Pendekatan berbasis masyarakat juga terlihat dalam perjalanan Atalia Praratya. Dengan latar pendidikan kesehatan masyarakat, dia mengarahkan kontribusinya pada isu-isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari ketahanan keluarga hingga pendidikan dan kesehatan. Saat menjabat Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat dan Ketua Dekranasda, dia aktif menggerakkan program berbasis komunitas. Kini, kehadirannya di DPR RI menunjukkan kelanjutan peran tersebut dalam skala yang lebih luas, dari gerakan ke ranah legislasi.

Atalia Praratya
Atalia Praratya

Jika Atalia bergerak dari akar komunitas, maka pendekatan teknokratis terlihat pada figur seperti Puteri Komarudin. Kehadirannya mencerminkan bagaimana latar pendidikan dapat memperkuat kapasitas dalam menjalankan fungsi politik. Lulusan Universitas Melbourne ini kini aktif di Komisi XI DPR RI yang membidangi sektor fiskal dan perbankan.

Dalam perannya, Puteri terlibat dalam pembahasan kebijakan keuangan negara sekaligus mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat, terutama generasi muda. Fokusnya pada penguatan UMKM juga menunjukkan keterkaitan antara kebijakan makro dan dampak di tingkat mikro.

Sementara Yashinta Sekarwangi Mega merupakan figur muda yang aktif dalam isu sosial dan pemberdayaan generasi muda. Dia terpilih sebagai anggota DPD RI periode 2024-2029 setelah meraih 470.211 suara di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sosok ini membawa perspektif segar generasi muda untuk mewakili wilayah Yogyakarta. Ia memanfaatkan latar belakang pendidikan S2 Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia guna memperkuat kinerjanya. Pengalaman organisasinya turut membantu dalam mengangkat isu partisipasi publik serta komunikasi politik inklusif. Kehadirannya sekaligus mencerminkan proses regenerasi yang mulai terjadi dalam lanskap politik Indonesia. Politisi muda ini menggunakan pendekatan komunikasi yang efektif untuk menjangkau konstituennya. Hal tersebut membuktikan bahwa kapasitas akademik mampu memperkuat peran representasi di tingkat nasional. Langkahnya memberikan harapan baru bagi keterlibatan aktif anak muda dalam dunia politik.

Yashinta Sekarwangi Mega
Yashinta Sekarwangi Mega

Jika di tingkat nasional perempuan mulai memainkan peran dalam perumusan kebijakan makro, maka dinamika yang tak kalah penting justru terjadi di tingkat daerah, tempat kebijakan bersentuhan langsung dengan masyarakat. Dalam konteks ini, kepemimpinan perempuan juga tercermin dari kedekatannya dengan komunitas serta kemampuannya membaca kebutuhan lokal.

Winda Sari, anggota DPRD Kabupaten Barito Timur
Winda Sari, anggota DPRD Kabupaten Barito Timur

Hal tersebut terlihat pada kiprah Winda Sari, anggota DPRD Kabupaten Barito Timur dari Partai Perindo. Tak hanya menjalankan fungsi legislasi, lulusan S2 Universitas Lambung Mangkurat ini juga aktif di sektor olahraga dan komunitas digital, termasuk melalui perannya dalam organisasi esports.

Legislator yang duduk di DPRD Barito Timur sejak 2019 ini tercatat sebagai Ketua Indonesia Esports Association Kalimantan Tengah dan Ketua Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia Barito Timur, serta dikenal memiliki minat di dunia game khususnya Dota 2 yang ditekuninya sejak 2017.

Hillary Brigitta Lasut
Hillary Brigitta Lasut

Dari Sulawesi Utara, ada Hillary Brigitta Lasut yang dikenal sebagai salah satu representasi perempuan muda di parlemen nasional. Dengan latar belakang pendidikan S2 Hukum dari Universitas Washington, dia menjalankan fungsi legislasi dan pengawasan dengan pendekatan berbasis kerangka hukum.

Sebagai salah satu anggota DPR termuda saat pertama kali terpilih pada 2019, Hillary menunjukkan bahwa usia bukan lagi batas dalam berkontribusi di ruang politik formal, sekaligus aktif mengangkat isu generasi muda, pendidikan dan pemberdayaan perempuan dengan gaya komunikasi yang modern dan dekat dengan publik.

Kehadiran para tokoh perempuan ini menunjukkan bahwa politik perempuan di Indonesia tengah bergerak menuju fase yang lebih substantif. Pendidikan menjadi salah satu fondasi utama, tetapi tidak cukup tanpa diiringi pengalaman, konsistensi dan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat. Dalam konteks ini, perempuan tidak hanya hadir sebagai representasi, tetapi sebagai penggerak perubahan yang bisa menghadirkan energi baru Indonesia.

Momentum Hari Kartini kian relevan untuk melihat bagaimana semangat emansipasi terus bertransformasi di panggung politik. Dahulu perempuan fokus membuka akses, namun kini mereka harus memastikan kualitas dan dampak nyata. Para tokoh ini membuktikan bahwa kepemimpinan bukan sekadar mengejar posisi formal. Mereka justru menggunakan jabatan tersebut untuk menghadirkan perubahan yang nyata bagi masyarakat.

Dengan latar pendidikan yang kuat dan rekam jejak jabatan yang beragam, dari tingkat lokal hingga nasional, mereka menjadi bagian dari wajah baru politik Indonesia. Sebuah wajah yang tidak hanya inklusif, tetapi juga semakin berorientasi pada kerja nyata dan hasil yang terukur.