Terlama Tak Hujan, DIY Perpanjang Siaga Darurat Kekeringan

Kondisi kekeringan DIY

BMKG mencatat wilayah DIY mengalami hari tanpa hujan terpanjang di Indonesia hingga mencapai 131 hari.

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami hari tanpa hujan terpanjang di Indonesia selama 131 hari pada masa kemarau ini. ​Pemerintah DIY memutuskan untuk memperpanjang status siaga darurat kekeringan di seluruh wilayahnya hingga akhir November nanti.

​Sebelumnya, berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 248 Tahun 2026, status siaga darurat tersebut berlaku sejak 20 Juli hingga 30 September 2026. Namun, masa siaga diperpanjang setelah menimbang prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi kekeringan serta pola curah hujan di bawah normal yang bertahan hingga akhir tahun ini.

“Perpanjangan masa tanggap siaga ini diperhitungkan melihat kondisi geografis di lapangan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Agustinus Ruruh Haryata, pada Rabu, 30 September 2026.

​Ruruh menyatakan seluruh kabupaten di DIY terdampak kekeringan yang cukup parah meliputi Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, dan Bantul. Pemerintah setempat juga mengantisipasi dampak musim kemarau yang dipicu oleh dominasi fenomena El Niño, serta ancaman kebakaran hutan dan lahan yang diperkirakan masih terus berlanjut.

BMKG sebelumnya mencatat wilayah DIY sempat mengalami hari tanpa hujan terpanjang di Indonesia yang mencapai 131 hari. Meski begitu, BPBD DIY memastikan pasokan air bersih bagi masyarakat terdampak masih relatif aman terkendali melalui distribusi air bersih secara berkala.

“Lokasi yang butuh dropping air juga masih bisa terpenuhi dengan baik. Bahkan, di Gunungkidul sudah ada anggaran untuk tambahan itu,” tuturnya.

​Ruruh menambahkan untuk menjaga ketahanan pasokan air bersih hingga puncak musim kemarau selesai, pemerintah daerah bersama berbagai pemangku kepentingan telah menyiapkan sejumlah strategi cadangan.

Adapun BMKG Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta mengumumkan bahwa seluruh wilayah DIY berada dalam status Awas Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis pada dasarian I Oktober 2026. Kondisi ini dipicu oleh dominasi fenomena El Niño di Samudra Pasifik yang terindikasi sangat kuat serta pengaruh dari fenomena Dipole Mode positif dari Samudra Hindia yang diprakirakan bakal berlangsung hingga awal 2027.

​Atas kondisi dinamika atmosfer dan laut tersebut, BMKG memprediksi datangnya awal musim hujan 2026/2027 di wilayah DIY akan mengalami keterlambatan sekurang-kurangnya tiga dasarian dari rata-rata normalnya. “Awal musim hujan diperkirakan baru akan masuk secara bertahap mulai akhir November hingga pertengahan Desember 2026,” kata ​Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II D.I. Yogyakarta Mamenun, pada Rabu, 30 September 2026.

Ia menjelaskan bahwa mundurnya awal musim hujan ini secara langsung telah memangkas durasi periode penghujan di seluruh zona musim (ZOM) wilayah DIY menjadi lebih singkat dibanding periode normal. “Yakni berkurang sekurang-kurangnya tiga dasarian itu,” ujar Mamenun.

​Puncak musim hujan sendiri diproyeksikan baru terjadi pada Februari hingga Maret 2027 dengan akumulasi curah hujan berkisar antara 1.000 hingga 2.000 mm, sebelum akhirnya memasuki akhir musim hujan pada April 2027.