Dari sisi negara asal, BPS menyebutkan Cina, Jepang, dan Australia menyumbang porsi besar terhadap impor nonmigas Indonesia.
BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan peningkatan nilai impor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026. Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, nilai impor selama periode itu mencapai US$ 29,30 miliar, naik 39,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 21,08 miliar.
Ateng mengatakan kenaikan nilai impor migas juga terjadi pada Agustus 2026. Nilai impor migas mencapai US$ 3,53 miliar atau meningkat 30,73 persen dibandingkan dengan per Agustus 2025 yang sebesar US$ 2,7 miliar.
Sementara itu, impor nonmigas selama delapan bulan pertama 2026 tercatat sebesar US$ 157,09 miliar, meningkat 16,83 persen dibandingkan Januari-Agustus 2025 yang mencapai US$ 134,46 miliar. Dengan demikian, total nilai impor Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai US$ 186,39 miliar.
“Nilai tersebut tumbuh 19,84 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang sebesar US$ 155,54 miliar,” kata Ateng dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.
Dari sisi negara asal, kata Ateng, ada tiga negara yakni Cina, Jepang, dan Australia yang menyumbang porsi besar terhadap impor nonmigas Indonesia. Ketiganya secara keseluruhan memiliki pangsa 52,72 persen dari total impor nonmigas pada Januari-Agustus 2026.
Cina menjadi sumber impor nonmigas terbesar dengan nilai mencapai US$66,64 miliar. Komoditas yang paling banyak diimpor dari negara tersebut adalah mesin dan peralatan elektrik atau HS 85, dengan pangsa sebesar 22,19 persen.
Nilai impor mesin dan peralatan elektrik dari Cina juga meningkat 27,72 persen secara tahunan. Selanjutnya, nilai impor nonmigas Indonesia dari Jepang tercatat sebesar US$ 8,88 miliar. Impor dari Jepang terutama berasal dari kelompok mesin dan peralatan mekanik atau HS 84, dengan pangsa mencapai 19,99 persen.
Berbeda dengan Cina, impor nonmigas dari Jepang justru mengalami penurunan. Nilainya turun 16,8 persen ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, impor nonmigas dari Australia mencapai US$7,31 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Komoditas yang mendominasi impor dari negara tersebut adalah logam mulia dan perhiasan atau permata (HS 71), dengan pangsa 20,49 persen.





