Kementerian Perdagangan gencarkan pemantauan HA dan HET demi stabilkan harga bahan pokok.
Sejumlah harga bahan pangan terpantau mengalami kenaikan di berbagai wilayah belakangan ini, mulai dari minyak goreng kemasan bermerek, beras, cabai rawit, gula pasir, telur ayam, hingga daging sapi. Menanggapi hal itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyampaikan akan memastikan akan terus memantau agar harga di pasar tetap terkendali dan tidak melebihi harga tertinggi yang ditentukan pemerintah.
Kepala Biro Humas Kemendag I Made Kusuma Dewi menyampaikan, faktor yang membentuk harga komoditas pangan meliputi tiga hal. Pertama, pola konsumsi, produksi, dan kondisi geografis. Kedua, faktor musiman dan transmisi ekonomi global. Dan ketiga yakni perkembangan inflasi dan nilai tukar petani.
Seiring dengan ada keresahan atas kenaikan harga pangan di tengah masyarakat, Dewi menekankan pihaknya terus melakukan pemantauan. Ia menyampaikan, Kemendag sebenarnya rutin memantau perkembangan harga barang kebutuhan pokok melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) yang menjangkau 550 pasar di 514 kabupaten/kota. Pemantauan tersebut dipastikan akan lebih digencarkan.
“Pemantauan ini salah satu instrumen penting dalam menjaga harga tetap terkendali dan tidak melebihi harga acuan (HA) maupun harga eceran tertinggi (HET). HA dan HET ini ditetapkan sebagai titik keseimbangan dengan mempertimbangkan kepentingan produsen dan konsumen,” Jelas Dewi saat dihubungi.
Lebih lanjut, Dewi menyampaikan ada empat upaya kontinu Kemendag dalam menstabilkan harga pangan. Pertama, memastikan ketersediaan bahan pokok, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, serta tertib niaga. Kemendag dipastikan terus bersinergi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Pertanian, Bulog, serta pemerintah daerah.
Kedua, kewajiban penyaluran Domestic Market Obligation (DMO) minyak goreng rakyat minimal 35 persen melalui Perum Bulog dan BUMN Pangan sebagai distributor lini 1 (D1). Menurut catatannya, hingga 18 September 2026, realisasi penyaluran DMO minyak goreng melalui Bulog dan BUMN Pangan telah mencapai 48,55 persen, telah melampaui penyaluran minimal.
“Ketiga, mendorong perdagangan antarwilayah melalui kerja sama antardaerah (KAD) untuk mempertemukan daerah surplus dengan daerah yang mengalami kekurangan pasokan, sehingga menjaga kelancaran distribusi dan mengurangi disparitas harga,” jelasnya.
Keempat, memanfaatkan Sistem Resi Gudang sebagai instrumen alternatif pembiayaan bagi petani dan nelayan jika harga sedang jatuh.
Senada dengan Kemendag, Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan juga memastikan pemerintah terus memaksimalkan pemantauan dan stabilitas harga pangan di tengah fenomena El Nino. “Hari ini Kementerian Koordinator Bidang Pangan, benar-benar sekali lagi mohon maaf, kami merekalkulasi ketahanan pangan dari komunitas kita. Jadi yang terdampak dari El Nino ini seberapa banyak, ini terus dikaji,” kata Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan (Wamenko Pangan) Hanif Faisol Nurofiq di Jakarta, Rabu.
Hanif mengatakan, pemerintah memahami bahwa terjadi kenaikan harga komoditas pangan menyusul kondisi cuaca panas ekstrem imbas El Nino. Oleh karena itu, bantuan pangan beras kembali disalurkan pemerintah kepada jutaan keluarga penerima manfaat pada September 2026. Penyaluran kali ini menjadi bagian dari program bantuan pangan periode Juli hingga September yang diberikan berdasarkan data kesejahteraan masyarakat terbaru.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menetapkan 33.244.408 penerima untuk program bantuan pangan beras tahap kedua 2026. Setiap penerima memperoleh 10 kilogram beras per bulan untuk alokasi Juli, Agustus dan September. Dengan demikian, bantuan yang diterima untuk tiga bulan tersebut mencapai 30 kilogram beras per keluarga penerima manfaat.
Selain itu, pemerintah juga memutuskan penyalurannya dapat dilakukan sekaligus atau dirapel sehingga bantuan periode Juli hingga September diterima dalam satu kali penyaluran. “Saya rasa yang kondisi hari ini sedang terus kita pantau. Jadi bantuan pangan hari ini juga digelontorkan, paling tidak dalam dua bulan ke depan, harapan kita untuk bisa menekan harga,” ujar Wamenko Pangan.
Lebih jauh, Hanif mengatakan pemerintah juga terus mengoptimalkan berbagai peluang untuk menjaga harga pangan saat ini. “Kemudian langkah-langkah berikutnya apa? Tentu kita tidak boleh menutup kemungkinan, segala cara harus kita lakukan di dalam langkah menjaga kestabilan pangan ini. Ini tugasnya Kemenko Pangan, nanti akan dirumuskan di dalam rakortas-rakortas yang melibatkan para menteri,” kata dia.
“Hari ini sedang dievaluasi dengan detil, kalau memang ada lonjakan harga yang tidak bisa dikendalikan, maka akan diambil langkah-langkah yang diperlukan di sini,” ujarnya menambahkan.





