Tim gabungan mahasiswa UGM dari strata S1 hingga S3 ini bertarung dalam kompetisi berbasis simulasi platform Choreonoid.
TIM mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta memborong tiga penghargaan sekaligus dari ajang Humanoid Virtual Athletics Challenge (HVAC) 2026 di Jepang. Tim gabungan mahasiswa S1 hingga S3 ini bertarung dalam kompetisi berbasis simulasi platform Choreonoid dalam ajang yang digelar pada Selasa, 1 September 2026, lalu.
Tim itu, Humanoid Elins Research Club (ERC) dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM, menggunakan dua robot riset mereka, yaitu Robot UGM ESR dan Robot ESR V2. Hasilnya, mereka berhasil menyabet Juara 1 Kategori Athletics, Juara 3 Kategori Sprint (Short-track), serta Juara 3 Kategori Dance.
“Pencapaian ini diraih meski kami sempat terkendala oleh keterbatasan informasi dan bahasa pada platform simulasi asal Jepang,” kata Kapten Tim Robot Humanoid UGM, Hizkia Imanuel Prasetya, Jumat, 18 September 2026.
Pada kategori dance, tim UGM membawakan gerakan robot yang terinspirasi dari tari tradisional Kecak dari Bali yang dipadukan dengan gerakan tutting serta parodi. Hizkia mengatakan kalau saat simulasi, robot sempat terjatuh sehingga mengurangi poin.
Gerakan tambahan juga diakuinya terlalu sederhana dan tidak melibatkan gerakan kaki. “Pengurangan poin ini penyebab kami harus puas menempati posisi ketiga.”
Keunggulan teknis justruk ditunjukkan pada kategori Sprint (Short-track) dan Athletics. Anggota tim, Adi Sucipto, menjelaskan bahwa kunci keberhasilan Robot ESR V2 UGM terletak pada pengembangan model matematika yang dirancang.
Keandalan model ini membawa UGM meraih Juara 3 Sprint dengan catatan waktu 10,60 detik, serta meraih Juara 1 Athletics setelah menjadi satu-satunya tim yang sukses melintasi dua sektor rintangan (1st Left dan 2nd Left). Pada kategori Athletics, Adi mengungkapkan, tim lawan hanya mampu menuntaskan satu rintangan.
“Model matematika yang tepat dapat menghasilkan simulasi robot yang semakin mirip manusia. Robot ini tampak kakinya melayang seperti orang berlari,” ujar Adi.
Anggota tim lainnya, Bernardinus Farel Radhitya P., memaparkan proses perancangan robot-robot itu. Dituturkannya, proses integrasi desain 3D hingga siap disimulasikan memakan waktu hingga dua bulan. Hal ini dilanjutkan dengan tahap uji coba selama tiga bulan untuk menemukan formula robot final yang tepat.
Untuk menjaga keberlanjutan inovasi, tim berharap pihak kampus terus memberikan dukungan moral maupun finansial bagi riset robotika mahasiswa. “Karena ini pertama kali kami mengikuti lo mba simulasi, harapannya tahun depan bisa ikut lagi,” kata dia.





