Fitch menilai mengatakan dukungan pemerintah kepada INA menjadi penentu rating investasi. Juga tanggung jawab langsung kepada presiden.
FITCH Ratings mempertahankan peringkat Indonesia Investment Authority (INA) pada level BBB dengan prospek atau outlooknegatif untuk peringkat gagal bayar jangka panjang valuta asing dan rupiah.
Fitch Ratings juga mempertahankan peringkat gagal bayar jangka pendek valuta asing INA di level F2. Adapun, peringkat nasional jangka panjang INA masih bertahan pada AAA (idn) dengan prospek stabil.
Senior Director sekaligus Primary Rating Analyst International Fitch Ratings Paul Norris bilang, dukungan pemerintah Indonesia kepada INA menjadi faktor yang memengaruhi peringkat ini.
Skor dukungan pemerintah Indonesia kepada INA sebesar 45 dari maksimal 60. “Hal ini mencerminkan penilaian kami terhadap tanggung jawab dan insentif pemerintah untuk mendukung penerbit,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu, 16 September 2026.
Norris mengatakan rating INA menjadi setara dengan peringkat Pemerintah Indonesia pada level BBB dengan prospek negatif. Demikian juga pada outlook negatif pada peringkat jangka panjang INA setara dengan prospek pemerintah Indonesia.
Selain itu, Fitch menimbang pengambilan keputusan dan pengawasan INA juga kuat. Kondisi ini terlihat dari tanggung jawab INA yang langsung kepada presiden dengan jajaran Dewan Pengawas yang meliputi Menteri Keuangan dan Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara.
Soal gagal bayar INA, kata Norris, Fitch meyakini mempengaruhi ketersediaan dan pembiayaan bagi pemerintah dan perusahaan pelat merah lain. Dampaknya bisa merembet pada kepercayaan investor yang menurun terhadap iklim investasi di Indonesia.
Apalagi, profil INA yang sudah menjalin kemitraan dengan investasi senilai US$ 25 miliar untuk investasi di Indonesia bisa memperparah risiko ini. “Penilaian ini dibatasi karena utang INA yang terbatas dan INA tidak dipandang sebagai penerbit acuan bagi pemerintah di pasar utang,” ujar Norris.
Meski demikian, Fitch melihat kondisi keuangan INA menguat pada 2025. Pendapatan INA meningkat menjadi Rp 8,5 triliun pada 2025 dari Rp 5,9 triliun pada 2024. Pada periode tersebut, laba bersih INA juga naik menjadi Rp 7,4 triliun dari Rp 5,3 triliun. Kinerja INA pada 2025 ini didorong oleh pendapatan dari investasi sebesar Rp 866,3 miliar atau meningkat dari Rp 504,4 miliar dibandingkan 2024.
Dari segi likuiditas, Norris mengatakan, INA tetap memadai. Kondisi ini didukung oleh kas, deposito berjangka, dan kepemilikan obligasi. Meski demikian, saldo kas INA lebih rendah sebesar Rp 9,8 triliun pada 2025 dari Rp 12,8 triliun pada 2024 karena INA mempercepat penyebaran di sektor-sektor prioritas.





