PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) dan PT Pertamina (Persero) memperluas pembahasan kerja sama pengembangan bioenergi dari hulu hingga hilir. Salah satu proyek prioritas yang dibahas adalah reaktivasi Pabrik Bayas Biofuels di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, dengan kapasitas produksi sekitar 600.000 ton fatty acid methyl ester (FAME) per tahun.
Pembahasan tersebut dilakukan dalam pertemuan Agrinas Palma bersama Pertamina dan PT Pertamina Power Indonesia dengan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Pertemuan membahas pengembangan ekosistem bioenergi yang mencakup penyediaan bahan baku, fasilitas pengolahan, infrastruktur energi, logistik dan distribusi, hingga penyerapan produk.
Dari Pertamina hadir Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) Emma Sri Martini serta Direktur Utama PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) John Anis bersama jajaran manajemen. Sementara Agrinas Palma diwakili Direktur Utama Mohammad Abdul Ghani dan Direktur Bisnis Nurhidayat.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menekankan agar kerja sama antarbadan usaha milik negara (BUMN) tersebut segera diterjemahkan menjadi proyek konkret yang memberikan manfaat ekonomi, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta mendukung ketahanan energi nasional.
Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani mengatakan potensi lahan, kebun, fasilitas produksi, dan bahan baku yang dimiliki perusahaan dapat disinergikan dengan kapabilitas Pertamina dalam pengembangan dan pemasaran energi.
“Agrinas Palma siap mengambil peran pada sisi hulu dengan memastikan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan. Kolaborasi ini diharapkan dapat membentuk ekosistem bioenergi yang terintegrasi, mulai dari kebun, fasilitas pengolahan, infrastruktur pendukung, hingga penyerapan produk,” ujar Mohammad Abdul Ghani.
Bayas Biofuels Didorong Jadi Pasokan FAME BUMN
Reaktivasi Pabrik Bayas Biofuels menjadi salah satu proyek yang diprioritaskan dalam pembahasan. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 600.000 ton FAME per tahun.
Proyek ini diproyeksikan menjadi salah satu langkah awal kerja sama dalam mendukung ketersediaan biodiesel nasional. Reaktivasi Bayas Biofuels juga diarahkan untuk menjadi sumber pasokan FAME pertama yang disediakan BUMN.
Jika terealisasi, proyek tersebut akan memperkuat keterlibatan BUMN dalam rantai pasok biodiesel sekaligus mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati secara lebih berkelanjutan.
Siapkan Ekosistem Bioetanol di Kalimantan Timur
Selain biodiesel, Agrinas Palma dan Pertamina membahas pengembangan ekosistem bioetanol terintegrasi di Kalimantan Timur.
Konsep tersebut akan menghubungkan pengembangan perkebunan singkong dengan fasilitas pengolahan, penyediaan energi, logistik, hingga penyerapan hasil produksi. Dengan model terintegrasi, pengembangan komoditas tidak berhenti pada produksi bahan baku, tetapi diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah melalui proses hilirisasi.
Ruang lingkup kerja sama yang akan diperluas mencakup bioenergi, investasi, pemanfaatan produk samping, penyediaan bahan baku, pembangkit listrik, keberlanjutan, logistik dan distribusi, riset dan teknologi, serta penyerapan produk.
Selanjutnya, Pertamina dan Agrinas Palma akan memfinalisasi perluasan ruang lingkup nota kesepahaman serta mempercepat kajian teknis dan bisnis terhadap proyek-proyek yang dinilai siap diimplementasikan.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mempercepat hilirisasi sektor perkebunan, meningkatkan nilai tambah komoditas nasional, sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi Indonesia.





