Sambut Menteri Transmigrasi dengan Tarian Yospan, Siswa SD di Manokwari Tunjukkan Budaya Lokal Tak Lekang Zaman

Siswa SD Inpres 36 Wasegi sambut Menteri Transmigrasi dengan Tari Yospan saat kunjungan Tim Ekspedisi Patriot Unair di Manokwari, Papua Barat.
Tari Yospan menyambut Kedatangan Menteri Transmigrasi dan Bupati Manokwari
Tari Yospan menyambut Kedatangan Menteri Transmigrasi dan Bupati Manokwari

Porenesia.com – Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman melakukan kunjungan lapangan ke Distrik Warmare dan Prafi, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, Sabtu (12/9). Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga yang telah beberapa waktu terakhir bergerak di kawasan tersebut, menjalankan sejumlah program pemberdayaan masyarakat transmigrasi lintas sektor, mulai dari penguatan ekonomi warga, layanan dasar, hingga pendampingan di bidang pendidikan.

Dalam kunjungan itu, Menteri Transmigrasi meresmikan peluncuran Kampung Dodol Matoa di Distrik Warmare. Program ini menjadi salah satu inisiatif yang digagas Tim TEP, memanfaatkan matoa sebagai komoditas olahan bernilai ekonomi bagi warga setempat. Peluncuran tersebut sekaligus menegaskan arah kerja TEP yang tidak hanya menyasar aspek sosial, tetapi juga penguatan ekonomi berbasis potensi lokal di kawasan transmigrasi.

Momen kunjungan Menteri dan jajarannya turut diwarnai sentuhan budaya. Tim TEP 7 Universitas Airlangga, atau yang dikenal sebagai Tim Sapa Prafi memfasilitasi penampilan Tarian Yospan oleh siswa-siswi Sekolah Dasar Inpres 36 Wasegi untuk menyambut kedatangan rombongan. Tarian khas tanah Papua yang biasa dibawakan dalam suasana kegembiraan itu tampil sebagai pembuka rangkaian acara, mengundang perhatian para pejabat yang hadir.

Yospan sendiri dikenal luas sebagai salah satu tarian pergaulan khas masyarakat Papua, biasa ditampilkan dalam berbagai acara adat maupun penyambutan tamu kehormatan, dengan gerakan riang yang mencerminkan semangat kebersamaan. Menghadirkan tarian ini lewat tangan-tangan siswa sekolah dasar menjadi pemandangan yang tidak biasa sekaligus menyentuh dalam rangkaian kunjungan kerja menteri.

Bagi pihak sekolah, kesempatan tersebut bukan sekadar seremoni belaka. “Sebuah kehormatan bagi kami keluarga besar SD Inpres 36 Wasegi yang diberi kesempatan unjuk gigi seni budaya lokal yang kami miliki untuk menyambut Pak Menteri,” ungkap Kepala SD Inpres 36 Wasegi, menanggapi keterlibatan murid-muridnya dalam acara tersebut.

Keterlibatan siswa dalam pertunjukan Tarian Yospan ini sejalan dengan pendekatan yang selama ini didorong Tim Sapa Prafi dalam program pendidikan dasar, yakni menjadikan kearifan budaya lokal sebagai salah satu pijakan utama pembelajaran di sekolah. Menurut tim, integrasi kearifan lokal ke dalam proses belajar-mengajar bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak, mengingat kekayaan tradisi di lingkungan sekitar siswa menyimpan potensi besar untuk mendukung efektivitas kegiatan belajar.

Tarian Yospan, dalam konteks ini, tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukkan seni. Bagi anak-anak SD Inpres 36 Wasegi, panggung penyambutan Menteri menjadi ruang untuk mengekspresikan diri di hadapan publik. Keterampilan yang selama ini jarang mendapat ruang eksplisit dalam kurikulum formal. Melalui gerak dan irama tarian, siswa dilatih membangun kepercayaan diri sekaligus mengenal dan menghayati identitas budaya yang mereka warisi.

Pendekatan pendidikan kolaboratif berbasis kearifan budaya lokal semacam ini juga selaras dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin keempat mengenai Pendidikan Berkualitas. Tujuan tersebut menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif, merata, dan relevan dengan konteks sosial-budaya peserta didik. Bukan sekadar transfer pengetahuan akademik semata. Kehadiran Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga, termasuk Tim Sapa Prafi yang bekerja langsung di ranah pendidikan, menjadi salah satu wujud kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam mendorong pembangunan kawasan transmigrasi yang berkelanjutan.

Bagi SD Inpres 36 Wasegi, momen menyambut Menteri dengan Tarian Yospan diharapkan menjadi titik pijak untuk terus menghidupkan seni dan budaya lokal di lingkungan sekolah, bukan hanya sebagai kenangan satu hari, melainkan sebagai bagian yang menyatu dengan proses belajar siswa sehari-hari ke depan. Ke depan, sinergi antara kebijakan dan inisiatif sekolah ini diharapkan terus direplikasi di kawasan transmigrasi lain guna memastikan generasi muda tumbuh dengan pendidikan yang berakar pada identitas budayanya sendiri.