Integrasi Perikanan dan Ayam Petelur Berbasis Pakan Lokal, Jalan Kemandirian Pangan Masyarakat Bahari Tomini Raya

Integrasi perikanan dan ayam petelur berbasis pakan lokal Rp10.000/kg digulirkan Tim Ekspedisi Patriot di Ongka Malino, Tomini Raya
Dokumentasi Bersama Tim Ekspedisi Patriot

Porenesia.com– Peternak ayam di Kecamatan Ongka Malino, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah kini punya jalan keluar dari jerat harga pakan. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kementerian Transmigrasi bersama Universitas Airlangga memperkenalkan formula pakan mandiri berbahan lokal seharga Rp10.000 per kilogram, atau Rp3.000 lebih murah dibanding pakan pabrik yang beredar di pasaran seharga Rp13.000 per kilogram.

Formula tersebut dipaparkan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Penguatan Ketahanan Pakan dan Kesehatan Ternak” yang digelar pada Senin, 8 September 2026. Kegiatan hasil kolaborasi Tim TEP dengan Pemerintah Kecamatan Ongka Malino dan Pemerintah Desa Tinombala Jaya itu diikuti perangkat desa, tokoh masyarakat, serta kelompok peternak ayam dari empat desa.

FGD ini merupakan tindak lanjut dari pemetaan lapangan yang dilakukan Tim TEP sepanjang Agustus 2026. Dua persoalan paling mengemuka dari pemetaan tersebut adalah mahalnya harga pakan pabrik dan tingginya angka kematian ayam akibat penyakit.

Racikan Jagung, Bekatul, dan Tepung Ikan

Ketua Tim TEP, Dr. Emy Koestanti Sabdoningrum, drh., M.Kes., menyebut seluruh bahan baku formula tersebut tersedia di sekitar permukiman warga.

“Kami ingin memanfaatkan potensi bahan lokal yang ada di sekitar kita. Melalui program ini kami membuat pakan dari campuran jagung 60 persen, konga atau bekatul 30 persen, dan tepung ikan 10 persen. Dengan formula ini harga pakan bisa ditekan menjadi Rp10.000 per kilogram, padahal harga pakan pabrik di pasaran saat ini Rp13.000 per kilogram,” jelasnya.

Emy juga mengingatkan aspek teknis pemberian pakan. Seekor ayam membutuhkan sekitar 150 gram pakan per hari, sementara peralihan dari pakan pabrik ke pakan mandiri tidak boleh dilakukan sekaligus. Peternak dianjurkan menaikkan porsi secara bertahap, mulai 10 persen, 30 persen, 50 persen, 75 persen, hingga akhirnya 100 persen. Kualitas racikan dapat diperkaya dengan tambahan mineral, premix, dan vitamin. Pada sesi penutup, Tim TEP memperagakan langsung proses pembuatan pakan di hadapan peserta.

Peluang Pasar 2.000 Butir Telur Sehari

Materi inti lain disampaikan Yusuf, S.P., anggota DPRD Kabupaten Parigi Moutong yang juga berpengalaman sebagai peternak. Ia menekankan bahwa keberhasilan usaha ternak tidak hanya ditentukan modal, tetapi juga kesiapan mental.

“Unsur penting agar usaha untung itu ada 12: modal, ilmu, ikhtiar, lokasi, kemauan, niat, jujur, doa, mindset, mental, tanggung jawab, dan berani ambil risiko. Sedangkan yang membuat gagal itu tiga: cepat menyerah, kurang modal, dan malas,” tegasnya.

Yusuf memaparkan data kebutuhan telur di Kecamatan Ongka Malino yang mencapai 2.000 butir per hari. Selama ini pasokan tersebut masih didatangkan dari luar daerah, padahal seluruh bahan pakan tersedia di wilayah sendiri. “Ini peluang besar bagi kita untuk isi pasar sendiri,” tambahnya.

Meniran dan Kunyit untuk Snot, Ngorok, dan Aratan

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Arifin, salah seorang peserta, menanyakan cara mengatasi penyakit aratan, snot, dan ngorok yang telah membuat 60 ekor ayam burasnya mati. Tim TEP menjawab bahwa penanganan dapat ditempuh melalui pengobatan herbal. Ayam petelur dapat diberi antibiotik saluran pernapasan, sementara ayam kampung cukup diobati dengan daun meniran dan sambiloto untuk gangguan pernapasan, serta kunyit untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Adapun aratan, menurut Tim TEP, merupakan gejala heat stress akibat cuaca panas berlebih dengan ciri ayam kerap membuka dan menutup mulut. Penanganannya dapat dilakukan melalui pemberian bubuk meniran dan memastikan ketersediaan air minum.

Peserta lain, Yayan dari Desa Tinombala Sejati, mempertanyakan kemungkinan bantuan pemerintah disalurkan langsung ke rumah tangga tanpa melalui kelompok. Tim TEP menjelaskan bahwa pendataan tetap harus melalui kelompok agar penyaluran lebih mudah dan tepat sasaran. Namun khusus budidaya tanaman herbal seperti daun meniran, Tim berencana menyebarkannya langsung ke setiap kepala keluarga agar kebutuhan obat ternak di tingkat rumah tangga dapat terpenuhi.

Komitmen Pemerintah Kecamatan dan Desa

Dukungan penuh disampaikan Camat Ongka Malino, Imran, S.P., saat membuka kegiatan. “Kami siap memfasilitasi dan mengawal program ini sampai ke tingkat rumah tangga, demi kemandirian ekonomi masyarakat Ongka Malino,” ujarnya.

Sikap serupa ditegaskan Kepala Desa Tinombala Jaya, Samsuri, yang menyatakan kesiapan desanya menjadi percontohan. “Pemerintah Desa Tinombala Jaya siap menyambut dan memfasilitasi program ini. Kami berharap warga kami bisa segera merasakan manfaatnya,” ungkapnya.

FGD ditutup dengan komitmen bersama Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa, dan Tim TEP untuk menjalankan uji coba pakan mandiri di tiga kelompok percontohan serta menggelar pelatihan pembuatan herbal ternak di tingkat dusun. Melalui rangkaian tindak lanjut itu, peternak Ongka Malino, khususnya di Desa Tinombala Jaya dan Tinombala Sejati, diharapkan mampu mandiri dalam pakan, menekan biaya produksi, dan mengisi sendiri kebutuhan telur daerahnya.

Terselenggaranya forum ini tidak lepas dari sinergi banyak pihak. Kami menyampaikan penghargaan kepada Kementerian Transmigrasi dan Universitas Airlangga yang menurunkan Tim Ekspedisi Patriot hingga ke pelosok Parigi Moutong, kepada Pemerintah Kecamatan Ongka Malino dan Pemerintah Desa Tinombala Jaya yang membuka ruang dan memfasilitasi kegiatan, serta kepada para peternak yang membagikan pengalaman lapangan mereka dengan jujur dan terbuka. Dari pertemuan sederhana di ruang desa seperti inilah kemandirian pangan sebuah kawasan biasanya bermula.