Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga Gali Potensi dan Permasalahan Kesehatan Psikologis Remaja di Sekolah Kawasan Transmigrasi

Tim 4 TEP UNAIR menggelar FGD di 3 sekolah Manokwari untuk memetakan kondisi psikologis remaja sebagai dasar program Posyan-Ga di Prafi.
Kegiatan FGD
Kegiatan FGD

Manokwari, Papua Barat — Kesehatan psikologis merupakan salah satu fondasi penting dalam perkembangan remaja. Kondisi psikologis yang baik mendukung kemampuan siswa untuk belajar, membangun relasi sosial, mengelola emosi, mengambil keputusan, dan mengembangkan potensi diri. Sebaliknya, persoalan psikologis yang tidak dikenali sejak dini dapat memengaruhi kehidupan remaja, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Berangkat dari persoalan tersebut, Tim 4 Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan Focus Group Discussion atau FGD di SMAN 1 Prafi, SMPN 8 Manokwari, dan MAN Manokwari pada Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari program “Pemberdayaan Pos Pelayanan Keluarga Mandiri atau Posyan-Ga untuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan Psikologis di Desa Transmigrasi Distrik Prafi, Manokwari.”kEGI

FGD dilaksanakan pada 21 Agustus di SMAN 1 Prafi, 24 Agustus di SMPN 8 Manokwari, dan 27 Agustus di MAN Manokwari. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang sosialisasi program, tetapi juga digunakan untuk menggali kondisi, kebutuhan, serta persoalan yang dihadapi remaja sebagai dasar penyusunan materi sosialisasi dan pendampingan pada tahap berikutnya.

Urgensi Penguatan Kesehatan Psikologis Remaja

Penguatan kesehatan psikologis remaja menjadi semakin penting di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat bahwa hasil skrining Program Cek Kesehatan Gratis menunjukkan hampir 10 persen dari sekitar 7 juta anak yang diperiksa memiliki indikasi masalah kesehatan jiwa. Ratusan ribu anak teridentifikasi menunjukkan gejala kecemasan dan depresi.

Data tersebut memperlihatkan pentingnya deteksi dini serta tersedianya sistem dukungan yang mudah dijangkau oleh anak dan remaja. Sekolah dan keluarga menjadi dua lingkungan terdekat yang memiliki peran penting dalam mengenali perubahan perilaku, memberikan dukungan awal, dan mengarahkan remaja kepada pihak yang kompeten apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Urgensi tersebut juga sejalan dengan hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey atau I-NAMHS tahun 2022 yang menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental masih menjadi tantangan serius bagi remaja Indonesia. Kondisi ini menegaskan bahwa upaya promotif dan preventif perlu diperkuat secara kolaboratif dan tidak hanya bertumpu pada layanan kesehatan.

Menggali Kondisi Remaja dari Lingkungan Terdekat

Melalui FGD, Tim 4 TEP UNAIR menggali berbagai aspek yang berkaitan dengan perkembangan remaja, meliputi tumbuh kembang, kepercayaan diri, regulasi emosi, pengendalian diri, kemampuan berpikir kritis, serta persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan diskusi dipilih untuk memberikan ruang bagi siswa dalam menyampaikan pengalaman dan pandangan mereka. Dengan demikian, penyusunan program tidak hanya berangkat dari asumsi mengenai persoalan remaja, tetapi juga mempertimbangkan kondisi yang mereka hadapi secara langsung di lingkungan sosialnya.

Dari perspektif sekolah, tantangan yang dihadapi remaja saat ini semakin kompleks. Kepala MAN 1 Manokwari, Irma Handayani, menyoroti pengaruh penggunaan gawai, pergaulan bebas, serta risiko penyalahgunaan narkoba dan minuman keras sebagai persoalan yang memerlukan perhatian bersama.

Kepala Distrik Prafi, Andrias Sayori, juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam menghadapi perubahan pola pergaulan remaja. “Pengaruh gadget dan pergaulan bebas penting untuk menjadi perhatian dan tanggung jawab seluruh pihak, mulai dari pemerintah, guru, hingga orang tua,” ungkapnya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan psikologis remaja berkaitan erat dengan lingkungan sosial tempat mereka tumbuh. Karena itu, penguatan kesehatan mental membutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat secara bersama-sama.

Mendukung SDGs melalui Pendekatan Kolaboratif

Program pemberdayaan Posyan-Ga memiliki keterkaitan langsung dengan agenda Sustainable Development Goals atau SDGs, terutama Tujuan 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera. Penguatan kesehatan psikologis sejak usia remaja merupakan bagian dari upaya mendorong kesejahteraan yang mencakup kesehatan fisik dan mental.

Program ini juga mendukung Tujuan 4 tentang pendidikan berkualitas. Lingkungan sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang penting bagi perkembangan sosial dan emosional siswa. Penguatan kapasitas siswa dan lingkungan pendukungnya diharapkan dapat mendorong terciptanya ruang belajar yang lebih aman dan responsif.

Selain itu, keterlibatan pemerintah distrik, sekolah, perguruan tinggi, keluarga, dan masyarakat mencerminkan semangat Tujuan 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Kolaborasi menjadi penting, khususnya dalam membangun sistem dukungan kesehatan psikologis yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di kawasan transmigrasi.

Menyiapkan Sistem Dukungan melalui Posyan-Ga

Hasil FGD selanjutnya akan menjadi dasar pengembangan Posyan-Ga melalui pembekalan kader remaja dan kader dewasa. Kader remaja diharapkan dapat menjadi pendamping teman sebaya yang memiliki kemampuan dasar untuk mendengarkan, memberikan dukungan awal, dan mengarahkan teman kepada pihak yang tepat ketika membutuhkan bantuan lebih lanjut.

Peran tersebut tidak menggantikan fungsi psikolog, konselor, guru, maupun tenaga kesehatan. Kader teman sebaya ditempatkan sebagai bagian dari sistem dukungan awal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja. Sementara itu, kader dewasa diharapkan dapat memperkuat dukungan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan keterlibatan berbagai unsur tersebut, program Posyan-Ga diarahkan untuk membangun dukungan kesehatan psikologis yang tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi berkembang melalui pemberdayaan dan penguatan kapasitas masyarakat.

Ketua MPK SMAN 1 Prafi, Ludowikus Krays Toding, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan ruang bagi siswa untuk lebih memahami kondisi psikologis teman sebaya. “Semoga dari adanya kegiatan ini, kami para siswa menjadi lebih paham tentang perkembangan psikologi teman-teman kami di sekolah maupun di luar sekolah. Terima kasih,” ujarnya.

Pelaksanaan FGD di tiga sekolah menjadi tahap awal bagi Tim 4 TEP UNAIR untuk memetakan kebutuhan remaja dan menyusun pendekatan yang lebih sesuai dengan kondisi lokal. Melalui kolaborasi antara sekolah, pemerintah, keluarga, masyarakat, dan remaja, pengembangan Posyan-Ga diarahkan sebagai bagian dari upaya memperkuat dukungan kesehatan psikologis di kawasan transmigrasi Distrik Prafi, Manokwari.