Salis Investama Perkenalkan Teknologi AI Analisis Retina, Tawarkan Pendekatan Baru Prediksi Risiko Penyakit Jantung

Salis

 

Pemahaman mengenai retina sebagai jendela kesehatan berkembang melalui riset selama ribuan tahun. Kini, dengan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), analisis terhadap foto retina dapat dilakukan hanya dalam waktu sekitar satu menit untuk membantu memprediksi risiko penyakit jantung.

Inovasi tersebut diperkenalkan dalam Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association (ASMIHA) ke-35 melalui teknologi analisis retina berbasis AI, Dr. Noon, yang menawarkan pendekatan baru dalam memprediksi risiko penyakit kardiovaskular menggunakan citra retina.

Teknologi yang dikembangkan di Korea Selatan itu memanfaatkan foto retina untuk membantu mengidentifikasi risiko Atherosclerotic Cardiovascular Disease (ASCVD) atau penyakit kardiovaskular aterosklerotik. Selain mendukung penilaian risiko penyakit jantung, sistem tersebut juga dapat membantu mendeteksi sejumlah gangguan kesehatan mata melalui proses skrining yang bersifat non-invasif.

Pemanfaatan retina sebagai sumber informasi kesehatan menjadi perhatian dalam simposium bertajuk Novel Methods to Predict ASCVD Risk yang digelar pada Jumat (17/7) di InterContinental Jakarta Pondok Indah, Jakarta. Sesi tersebut menghadirkan dr. Sahil Thakur, clinician scientist sekaligus dokter spesialis mata asal Singapura, yang memaparkan perkembangan bidang oculomics, yakni pemanfaatan data biologis dari retina untuk memahami kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Menurut Thakur, retina merupakan satu-satunya bagian tubuh yang memungkinkan pembuluh darah diamati secara langsung tanpa prosedur invasif. Dengan bantuan AI, informasi tersebut dapat diolah menjadi indikator yang membantu tenaga medis mengidentifikasi risiko penyakit kardiovaskular lebih dini.

“Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Sayangnya, banyak pasien baru terdiagnosis ketika gejala sudah muncul. Melalui perkembangan oculomics dan kecerdasan buatan, kami dapat mengekstraksi informasi klinis dari citra retina untuk menghasilkan penilaian risiko yang lebih cepat, mudah diakses, dan berpotensi dilakukan lebih dini. Teknologi ini bukan untuk menggantikan peran dokter, melainkan menjadi alat pendukung agar upaya pencegahan dapat dilakukan lebih efektif,” ujar Thakur.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan layanan kesehatan preventif berbasis AI mengingat besarnya populasi dan kebutuhan akan pemeriksaan kesehatan yang lebih luas. Menurutnya, teknologi seperti Dr. Noon dapat melengkapi pemeriksaan konvensional sehingga masyarakat dengan risiko tinggi dapat diidentifikasi lebih awal sebelum penyakit berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

“Indonesia memiliki potensi besar menjadi salah satu negara terdepan dalam penerapan AI untuk layanan kesehatan preventif di kawasan. Ketika keahlian klinis dipadukan dengan teknologi AI yang telah tervalidasi, tenaga kesehatan dapat mengidentifikasi individu berisiko lebih cepat dan memberikan intervensi sebelum penyakit kardiovaskular berkembang. Pencegahan akan selalu lebih baik daripada pengobatan,” katanya.

Teknologi Dr. Noon dihadirkan di Indonesia oleh Salis Investama sebagai distributor tunggal dan eksklusif. Partisipasi perusahaan dalam ASMIHA 2026 diwujudkan melalui keikutsertaan dalam pameran serta penyelenggaraan simposium ilmiah yang memperkenalkan pemanfaatan AI dalam skrining penyakit kardiovaskular kepada dokter spesialis jantung dan tenaga kesehatan.

Kehadiran teknologi tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan pendekatan skrining yang lebih cepat dan mudah diakses untuk membantu deteksi dini penyakit kardiovaskular. AI dapat menjadi pelengkap pemeriksaan klinis yang selama ini telah digunakan tenaga kesehatan, bukan menggantikan penilaian dokter.

Pemanfaatan teknologi berbasis AI dinilai sejalan dengan transformasi digital sektor kesehatan yang tengah didorong pemerintah. Dengan pendekatan yang lebih sederhana dan non-invasif, skrining berbasis analisis retina diharapkan dapat memperluas akses deteksi dini, meningkatkan akurasi identifikasi faktor risiko, serta memperkuat layanan promotif dan preventif dalam penanganan penyakit kardiovaskular di Indonesia.