JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kekeringan masih menjadi bencana yang mendominasi di berbagai wilayah Indonesia pada awal Juli 2026. Dampak musim kemarau menyebabkan ribuan kepala keluarga mengalami kesulitan memperoleh air bersih, sementara pemerintah daerah bersama BPBD terus melakukan penanganan melalui distribusi bantuan air.
Berdasarkan laporan BNPB per 3 Juli 2026, wilayah terdampak kekeringan antara lain Kabupaten Gunungkidul (DI Yogyakarta), Kabupaten Semarang (Jawa Tengah), Kabupaten Jember (Jawa Timur), serta Kabupaten Seram Bagian Timur (Maluku).
Di Kabupaten Gunungkidul, kekeringan melanda Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop dan berdampak pada 67 kepala keluarga. Pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat kekeringan yang berlaku hingga 31 Agustus 2026. BPBD setempat juga telah mendistribusikan 16 tangki air bersih kepada warga terdampak.
Sementara itu, di Kabupaten Semarang, kekeringan terjadi di Desa Plumutan dan Desa Bantal, Kecamatan Bancak. Sebanyak 586 kepala keluarga atau 1.224 jiwa terdampak akibat minimnya curah hujan dalam beberapa hari terakhir. BPBD telah menyalurkan dua tangki air bersih berkapasitas masing-masing 5.000 liter.
Kondisi serupa juga dialami Kabupaten Jember, Jawa Timur. Memasuki musim kemarau, warga Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari mengalami kesulitan memperoleh air bersih karena sumber air yang tersedia belum dapat dimanfaatkan secara optimal. BNPB mencatat sedikitnya 125 kepala keluarga terdampak, sementara BPBD bersama PMI telah mendistribusikan tandon air, jeriken, dan 9.000 liter air bersih.
Wilayah dengan dampak terbesar tercatat berada di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Kekeringan yang berlangsung sejak Mei hingga Juli 2026 menyebabkan penurunan debit air sungai dan sumur di sejumlah kecamatan. Sebanyak 7.107 kepala keluarga atau 24.089 jiwa terdampak akibat krisis air bersih.
BPBD Kabupaten Seram Bagian Timur telah melakukan identifikasi wilayah terdampak, asesmen cepat, serta mendistribusikan bantuan air bersih kepada masyarakat.
Selain kekeringan, BNPB juga mencatat kejadian gelombang pasang di Kabupaten Seram Bagian Timur. Peristiwa tersebut berdampak pada sedikitnya 1.070 jiwa dan menyebabkan kerusakan pada 207 rumah, terdiri atas 53 rumah rusak berat dan 154 rumah rusak ringan.
BNPB menjelaskan, berdasarkan analisis kondisi iklim global, fenomena El Niño masih terpantau di Samudra Pasifik sehingga berpotensi mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Meski demikian, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih terjadi di beberapa daerah akibat pengaruh dinamika atmosfer.
Melihat kondisi tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan, krisis air bersih, serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Masyarakat juga diminta menggunakan air bersih secara bijak, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau asap di lingkungan sekitar.





