KNKT Ungkap Temuan Awal Tabrakan Maut Kereta Bekasi Timur: Sopir Keliru Operasikan Transmisi

"Data onboard unit kendaraan tidak terdapat rekaman yang mendeteksi error pada sistem satu jam sebelum kejadian," kata Soerjanto
Tragedi Bekasi Timur
Tragedi Bekasi Timur

porenesia.com – Komite Nasional Keselamatan Transportasi resmi mengungkapkan sejumlah temuan awal terkait kecelakaan maut di Bekasi Timur akhir April lalu. Insiden tabrakan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek tersebut mengakibatkan 16 orang meninggal dunia.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan bahwa kecelakaan berantai ini bersumber dari taksi listrik yang terjebak di tengah rel. Berdasarkan data unit kendaraan, sistem taksi listrik Green SM tersebut dipastikan tidak mengalami gangguan atau error. Investigasi KNKT justru menemukan adanya kekeliruan pengoperasian transmisi oleh pengemudi sesaat sebelum mobil berhenti di tengah perlintasan sebidang. Transmisi kendaraan diketahui mendadak berubah dari posisi berkendara atau “D” ke posisi netral atau “N”.

Mobil taksi tersebut kemudian meluncur lambat hingga akhirnya berhenti tepat di atas jalur rel kereta api Bekasi Timur. Dalam kondisi panik, sang sopir terus menekan pedal gas secara berulang kali hingga menyentuh angka 51 persen. Namun, upaya tersebut sia-sia karena posisi transmisi kendaraan masih tertahan di posisi netral sehingga mobil tidak bergerak. Sopir sempat memindahkan transmisi ke posisi parkir atau “P” sambil terus menginjak pedal gas dan rem bergantian.

Selain masalah transmisi, KNKT juga membongkar adanya faktor gangguan sinyal bantu akibat distraksi lampu di sekitar jalur. Kondisi tersebut membuat masinis dan asisten masinis tidak dapat melihat persinyalan dengan jelas karena terganggu cahaya lingkungan. KNKT juga menyoroti adanya jeda waktu komunikasi yang terlalu lama di antara sesama petugas pengendali perjalanan kereta. Laporan awal kecelakaan taksi diterima oleh pengawas wilayah selatan sedangkan KA Argo Bromo dikendalikan oleh wilayah timur. Alur penyampaian informasi yang berbelit membuat masinis terlambat menerima perintah untuk melakukan tindakan pengereman darurat secara maksimal di lapangan.

Masinis sebenarnya sudah mulai menurunkan kecepatan kereta sekitar 1,3 kilometer sebelum titik lokasi tabrakan maut terjadi. Namun, masinis hanya mengerem secara bertahap karena instruksi dari pusat kendali hanya meminta pengereman sedikit demi sedikit. Kereta cepat tersebut baru bisa berhenti total jika masinis melakukan tindakan pengereman maksimal dengan jarak satu kilometer. KNKT menegaskan seluruh paparan data faktual ini masih bersifat sementara dan belum menjadi kesimpulan akhir penyebab kecelakaan.