Ketegangan Memuncak, Menlu Abbas Araghchi Tegaskan Iran Siap Lanjutkan Aksi Militer Langsung Terhadap AS

"Rakyat Amerika diberitahu bahwa mereka harus menanggung lonjakan biaya akibat 'perang pilihan' terhadap Iran," tulis Menlu Araghchi.
Ilustrasi Iran vs AS
Ilustrasi Iran vs AS

 porenesia.com – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya siap melakukan aksi militer langsung terhadap Amerika Serikat. Langkah ekstrem ini akan mereka ambil apabila proses negosiasi damai antar kedua negara tersebut tidak kunjung membuahkan hasil.

Araghchi menilai konfrontasi bersenjata antara Iran dan AS telah membawa dampak negatif yang sangat besar bagi kondisi ekonomi global. Perang ini terbukti memicu lonjakan biaya hidup tinggi serta inflasi parah di dalam negeri Amerika Serikat saat ini.

Faktor utama penyebab inflasi tersebut adalah kenaikan harga komoditas energi serta terganggunya jalur distribusi minyak di Selat Hormuz. Araghchi menyampaikan kritik tajam tersebut secara terbuka melalui unggahan tulisan di akun resmi pada platform media sosial X.

Ia menyebut bahwa rakyat Amerika terpaksa harus menanggung lonjakan biaya akibat kebijakan perang pilihan yang pemerintah mereka kobarkan. Selain Araghchi, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga turut menyindir membengkaknya biaya perang dari kubu rivalnya tersebut.

Ghalibaf menyoroti langkah pemerintah AS yang terpaksa melelang obligasi tenor 30 tahun demi menutupi defisit anggaran anggaran negara. Obligasi tersebut terjual dengan nilai imbal hasil tertinggi sepanjang sejarah pengamatan dalam kurun waktu hampir dua dekade terakhir.

Meski gencar menyerang kondisi ekonomi AS, situasi internal di dalam negeri Iran sendiri sebenarnya juga sedang mengalami tekanan berat. Tingkat inflasi sektor pangan di negara tersebut dilaporkan sudah menembus angka fantastis hingga mencapai 115 persen saat ini.

Harga berbagai macam kebutuhan pokok masyarakat lokal juga terus melonjak tajam dalam kurun waktu satu tahun kalender terakhir. Kondisi buruk ini semakin diperparah dengan ambruknya nilai tukar mata uang rial secara drastis terhadap dolar Amerika Serikat.

Nilai kurs mata uang rial terperosok hingga menyentuh angka 1,8 juta per dolar AS di pasar gelap Kota Teheran. Krisis multidimensi ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah Iran di tengah upaya mereka untuk tetap mempertahankan posisi politiknya.